Berita Bolmong
Berburu Sinyal untuk Melihat Indonesia
Tak ada sinyal di desanya Pindol, membuat gadis berkulit kuning langsat ini terpaksa mencari sinyal di Desa Lolak.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Putri Paputungan memacu sepeda motor bebeknya melewati tikungan tajam yang menurun di Desa Pindol, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, Senin (17/08/2020) pagi.
Itu hal berbahaya. Tapi ia tak peduli. Pelajar salah satu SMK swasta di Manado ini tengah buru - buru. Ia hendak mengikuti upacara bendera memperingati hari ulang tahun kemerdekaan RI lewat daring di rumah salah satu kerabatnya di Desa Lolak.
Upacara akan dimulai beberapa menit lagi. Sementara perjalanan ke salah satu kerabatnya di Desa Lolak masih panjang.
Tak ada sinyal di Desa Pindol, membuat gadis berkulit kuning langsat ini terpaksa mencari sinyal di Desa Lolak.
Jarak antara kedua desa sekira 18 kilometer. Perjalanan harus melewati sejumlah tanjakan dan turunan disertai tikungan tajam. Jalan juga rusak parah di beberapa titik.
Putri bangun agak telat pagi itu. Namun niatnya untuk mengikuti upacara bendera lewat daring sudah bulat. Secepat mungkin ia melesat. Jarum di speedometer sepeda motornya menyentuh 80 km per jam. Sebuah rekor bagi remaja berusia 15 tahun ini.
Sayang niat itu tak kesampaian. "Begitu tiba di rumah saudara saya, upacara sudah hampir selesai, saya sudah tak diizinkan masuk ke aplikasi lagi," kata Putri dengan masygul kepada Tribun Manado, Selasa (18/08/2020) di rumah Sangadi Desa Pindol Muhdar Gobel.
Kejadian ini menjadi pengalaman traumatis bagi Putri. Mimik remaja berambut lebat ini sedih dan kata - katanya bergetar saat menceritakan hal tersebut pada Tribun Manado. "Padahal saya ingin sekali ikut upacara hut kemerdekaan," ujarnya.
Susah sinyal menjadi masalah terbesar bagi warga Desa Pindol. Untuk berinternet atau sekedar menelepon, warga harus menempuh jarak sejauh puluhan kilometer menuju Desa Lolak. Pilihan lainnya adalah mendaki sebuah bukit di belakang kampung. Ada sinyal di sana tapi byar pret.
Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah desa di Kecamatan Lolak sudah dimerdekakan dari susah sinyal. Giliran desa Pindol belum kunjung tiba. Padahal desa tersebut sudah berusia 50 tahun. Namanya sudah pula dikenal di tingkat nasional berkat pembangunan waduk terbesar di Indonesia Timur di pinggiran desa itu.
Seribu satu kesulitan dialami warga akibat ketiadaan sinyal. Mereka, misalnya, sulit menelepon keluarga di luaran. Perkembangan global lambat masuk ke desa berpenduduk 800 jiwa tersebut. Di pemerintahan desa, pengiriman data harus dilakukan secara manual dengan cara datang langsung ke Lolak, pusat pemerintahan Bolmong.
Derita akibat ketiadaan sinyal terutama dialami para pelajar SMP dan SMA Di masa pendemi Covid 19 ini, mereka musti menjalani proses belajar secara daring. Proses luring yakni guru mengunjungi siswa tak dapat diterapkan karena umumnya siswa di sana bersekolah di luar desa. Ada yang di Lolak. Ada pula di luar Kabupaten seperti Manado, Kotamobagu serta Siau.
Para siswa pun berburu sinyal di tempat yang jauhnya belasan kilometer atau mendaki bukit.
"Kita sudah merdeka 75 tahun, tapi rasanya belum merdeka dari sinyal buruk," seloroh Sangadi atau Kepala Desa Pindol Muhdar Gobel. Tribun menjumpai Muhdar di rumahnya yang berada di tengah kampung Senin siang.
Dari pendopo rumahnya, jalan umum terlihat jelas. Bendera merah putih dan umbul - umbul terpasang di kiri kanan jalan selebar sekira tujuh meter tersebut. Nun jauh di sana, bukit - bukit menjulang tinggi. Puncaknya bak menyundul langit. Matahari bersinar terang siang itu. Tapi suhu terasa sejuk. Angin bertiup cukup kencang sebagaimana biasanya di bulan Agustus.
Muhdar, pria kurus dan berwajah muram. Kala itu mengenakan kacamata hitam. Kaos yang ia kenakan juga hitam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/alfa-yang-kala-itu-hanya-mengenakan-kaos-dan-celana-pendek.jpg)