AMAN
AMAN Peringati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia pada 9 Agustus 2020, Ini Pidato Sekjen
9 Agustus merupakan hari yang ditetapkan PBB sebagai The International Day of the World Indigenous Peoples atau Hari Internasional Masyarakat Adat
Ketiga, Bahwa selama masa pandemi ini kita juga membuktikan bahwa rasa senasib sepenanggungan antara Masyarakat Adat, Petani, Nelayan dan Buruh mampu membuat kita bertahan.
Izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada Sekjen Konsorsium Pembaharuan Agraria Sdr Dewi Kartika yang memimpin Lumbung Agraria, dan kepada seluruh Serikat Tani yang mengirimkan pangan kepada saudara-saudara kita di beberapa kota dan meringankan beban mereka yang sedang kesulitan pangan di berbagai kota.
Izinkan saya menyerukan kepada saudara-saudaraku Petani, Buruh, Nelayan dan kaum miskin kota untuk menggunakan momentum ini, kita perkuat gotong-royong, mari kita semua bergerak bersama memutuskan lingkaran setan ekonomi kapitalistik dan neoliberal yang selama ini telah menindas kita semua!
Jawaban keempat: Hari ini kita menyaksikan satu sejarah baru, dimana kapitalisme sedang mengalami krisis yang sangat besar.
Paradigma pembangunan yang mengandalkan ekonomi-politik neoliberalisme yang selama ini dipraktekkan oleh rejim Kapitalisme global telah GAGAL TOTAL. Gagal membangun kesejahteraan bagi kita semua.
Pabrik ditutup, industri skala besar terancam bangkrut, PHK massal terjadi dimana-mana, biaya hidup warga perkotaan meningkat, tingkat pengangguran di dunia dan di Indonesia terus meningkat pesat.
Sekali lagi, ini membuktikan bahwa rejim Kapitalisme dengan model ekonomi neoliberalnya GAGAL TOTAL.
Ketika krisis global ini terjadi, tidak ada solidaritas dari pengusaha-pengusaha kaya yang selama puluhan tahun telah diistimewakan dan dimanjakan pemerintah dengan berbagai regulasi dan dana.
Tidak ada mitigasi yang kuat dan langkah-langkah konkrit yang dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah PHK massal, termasuk mengatasi dampak lanjutan dari PHK tersebut sebagai akibat dari pandemi.
Propaganda pembangunan yang selalu kita dengar bahwa “perusahaan menciptakan lapangan kerja dan menjamin kehidupan” terbukti hanyalah isapan jempol semata.
Dimana-mana, di Wilayah Adat maupun di kota-kota keberadaan mereka terbukti menciptakan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan ekonomi.
COVID-19 pun telah memukul sangat keras negara-negara dengan ketimpangan ekonomi yang tinggi, termasuk Indonesia.
Kita juga tidak boleh menutup mata atas berbagai bencana iklim yang melanda dunia dan tanah air kita. Musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya, banjir besar dan tanah longsor sedang terjadi di mana-mana.
Membuat kita semua semakin terancam. Kita tidak boleh mengingkari bahwa ini semua karena SALAH URUS oleh Pemerintah yang secara serampangan memberikan ijin-ijin ekploitasi kepada perusahaan-perusahaan yang rakus.
Bapak/ Ibu dan saudara-saudaraku semua,
Sekarang saatnya untuk kita membuka mata terhadap petunjuk yang disampaikan oleh krisis yang terjadi saat ini. Bahwa kita harus segera memulai sebuah TATANAN KEHIDUPAN BARU YANG BERKELANJUTAN DAN BERKEADILAN.
Kita tidak ingin lagi mendegar kalimat “Bumi ini cukup untuk semua orang tetapi tidak cukup buat satu orang rakus”. Saatnya kita menciptakan Kehidupan Baru dimana bumi bahkan lebih dari cukup untuk menjamin kehidupan manusia yang ada saat ini dan generasi yang akan datang.
Covid 19 menunjukkan arah bahwa kita harus merubah paradigma pembangunan saat ini. Tatanan ekonomi kerakyatan yang berlandaskan gotong-royong, keadilan dan menjamin keberlanjutan kehidupan adalah modal utama dan masa depan.
Kita harus memperkuat sistim ekonomi di tingkat lokal. Sebuah sistim ekonomi global yang lebih adil dan merata akan dibentuk oleh jutaan sistim ekonomi skala lokal yang kokoh. Kita harus menciptakan mekanisme di mana Masyarakat Adat dan masyarakat di pedesaan dan masyarakat urban dapat saling mendukung.
Bapak/Ibu dan Saudara-saudaraku yang saya hormati,
Bagi kita Masyarakat Adat, semangat gotong-royong dan solidaritas yang kita bangun bersama terbukti menjamin kedaulatan pangan di wilayah-wilayah adat.
Namun demikian, kita Masyarakat Adat juga wajib menjamin ketersediaan pangan dan lingkungan yang baik bagi orang lain di sekitar kita, seperti yang dimandatkan oleh Maklumat KMAN Tanjung Gusta.
Untuk itu kita perlu membuka diri dengan introduksi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat pengetahuan dan teknologi yang kita warisi dari leluhur kita. Kita harus mampu membangun unit-unit produksi yang kokoh di komunitas masyarakat adat serta mengembangkan sistim pasar lokal yang akan menjadi jembatan bagi kita untuk berbagi dengan orang lain di sekitar kita.
Hari ini kita patut memberikan penghargaan kepada 108 Tim Tanggap Darurat AMAN #AMANkanCOVID19, seluruh Pengurus AMAN, seluruh Organisasi Sayap, para pemuda dan perempuan adat yang selama ini bekerja maksimal untuk memastikan resiliensi (daya pulih, daya lenting) di Masyarakat Adat di tengah pandemi.
Ingatlah, pekerjaan kita belum selesai, bahkan baru dimulai.
Bapak/Ibu dan Saudara-saudaraku yang saya banggakan,
Wilayah-wilayah adat yang rusak akibat aktivitas pertambangan dan perkebunan sawit harus segera direhabilitasi untuk memastikan resiliensi Masyarakat Adat terus bertahan dengan merubah system pertanian kita secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Oleh karena itu, rehabilitasi wilayah adat harus dilakukan secara total dan tidak hanya sebatas menanam pohon saja, tetapi juga melakukan rehabilitasi fisik tanah yang rusak, pengelolaan system pertanian yang salah akan gagal.
Bapak/Ibu dan Saudara-saudaraku sekalian yang saya muliakan,
Sampai hari ini, hanya tinggal 8 hari lagi kita merayakan 75 tahun Indonesia merdeka, Undang-Undang yang diamanatkan konstitusi belum juga ada.
Negara belum hadir di tengah-tengah kita. Banyak sekali masalah yang dialami oleh Masyarakat Adat sebagai akibat dari 75 tahun masa pengabaian atas hak-hak konstitusional seperti pemiskinan, pembunuhan, konflik, kriminalisasi, pemusnahan bahasa, krisis identitas yang terus meluas dan kualitas lingkungan hidup yang terus menurun yang berdampak pada semakin memburuknya situasi dan kesehatan Masyarakat adat di seluruh pelosok Nusantara.
Ditengah-tengah kondisi seperti ini maka mewujudkan Tatanan Kehidupan Baru tidak akan pernah mudah.
Kita masih harus terus menjaga dan mempertahankan wilayah adat dari serbuan perusahaan sambal membangun solidaritas dengan saudara-saudara kita para Petani, Nelayan, Buruh dan kaum miskin di perkotaan.
Kita juga masih harus berjuang lebih keras untuk mendesakkan pengesahan UU Masyarakat Adat sesuai dengan aspirasi kita. Hari ini, kita melihat ratusan komunitas Masyarakat Adat menyerukan pengesahan RUU Masyarakat Adat.
Untuk itu kita semua harus terus mengobarkan semangat di hati kita masing masing, bahwa kita pasti akan mewujudkan Masyarakat Adat dan Bangsa Indonesia yang berdaulat, mandiri dan bermartabat.
Ijinkan saya sekali lagi mengucapkan selamat merayakan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, sambal menyerukan: I Yayat Usanti! Angkat pedangmu dan maju berperang!
Hoootu!
Salam Nusantara,
Jakarta, 9 Agustus 2020
RUKKA SOMBOLINGGI
Sekretaris Jendral AMAN
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/aliansi-masyarakat-adat-nusantara-aman.jpg)