AMAN
AMAN Peringati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia pada 9 Agustus 2020, Ini Pidato Sekjen
9 Agustus merupakan hari yang ditetapkan PBB sebagai The International Day of the World Indigenous Peoples atau Hari Internasional Masyarakat Adat
COVID-19 menegaskan bahwa apa yang selama ini kita perjuangkan adalah benar dan baik.
Pandemi memberikan berbagai jawaban sekaligus memberikan petunjuk arah ke masa depan yang lebih baik, sebuah kehidupan baru dimana kita harus hidup terus menjaga ibu bumi dan adil dengan sesama manusia.
Apa saja jawaban yang diberikan oleh pandemi kepada kita?
Pertama: Bahwa Masyarakat Adat yang bertahan di tengah tengah krisis yang sedang berlangsung saat ini adalah yang masih menjaga keutuhan wilayah adat, dan setia menjalankan nilai-nilai dan praktek luhur nenek moyang kita.
Musyawarah adat, gotong royong, memiliki rasa senasib sepenanggungan dan memanfaatkan kekayaan titipan leluhur secara bijaksana.
Masyarakat Adat beserta wilayah adatnya yang masih bertahan sebagai sentral produksi dan lumbung pangan telah terbukti mampu menyelamatkan warga Masyarakat Adatnya, sesama kelompok Masyarakat Adat bahkan menyelamatkan bangsa dan negara dari ancaman krisis pangan.
Masyarakat Adat tidak hanya memiliki kemampuan untuk memenuhi pangannya secara mandiri, tetapi mampu berbagi dengan komunitas-komunitas lain, bahkan ke kota-kota.
Maklumat Tanjung Gusta meneguhkan sikap dan prinsip kita semua, bahwa
“Kemandirian Masyarakat Adat tercapai jika kita hidup sejahtera dan berbahagia dengan mengelola secara bijaksana dan berkelanjutan seluruh kekayaan titipan leluhur, baik kekayaan material yang berada di bawah, di atas di permukaan tanah di dalam wilayah adat kita masing-masing maupun kekayaan immaterial berupa spritulitas, pengetahuan, seni tradisi, kesusasteraan, ritual-ritual dan kearifan adat kita.
Ekonomi masyarakat adat mandiri jika sungai, laut, hutan dan tanah leluhur kita menyediakan kebutuhan hidup berkecukupan bagi kita.
Pangan cukup, energi pun cukup! Ekonomi kita mandiri jika kreatifitas dan inovasi dalam budaya kita membahagiakan diri kita sendiri dan orang lain di sekitarnya”.
Bapak/Ibu dan Saudara-saudaraku yang saya kasihi,
Kedua, Bahwa Masyarakat Adat yang tanahnya sudah dirampas oleh perusahaan & pemerintah, yang menjadi buruh dan dipaksa menjadi petani kelapa sawit tidak memiliki daya tahan tahan menghadapi krisis pangan akibat pandemi yang berkepanjangan.
Masyarakat Adat yang sudah tidak berdaulat atas wilayah adatnya bernasib sama dengan yang hidup di perkotaan yang merupakan tempat yang paling tidak aman di dunia saat ini.
Hal ini membawa kita menemukan jawaban ketiga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/aliansi-masyarakat-adat-nusantara-aman.jpg)