Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Webinar Maengket

Turis Tidak Tergantung Maengket.

Lonjakan wisatawan Sulut terjadi karena pemerintahan Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw menambah volume penerbangan langsung.

Editor: Sigit Sugiharto
Fendry Panombon
Maengket di Manado, Sulut, 2014. Foto diambil oleh Fendry Panombon, Sarjana Filsafat dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 

Bukunya berjudul asli, De Minahasa, Har verleden en haar tegenwoordige toestand (Minahasa masa lalu dan masa kini yang kemudian diberi judul Minahasa, Rakyat dan Budayanya, terbit 1991.

Saya juga menyinggung tulisan saya di Kompas.com tahun lalu tentang “hilangnya jiwa atau roh maengket.” yang aslinya merupakan kesatuan orang Minahasa dengan alamnya (semesta). Bagi saya, jiwa atau kesatuan dengan alam itu membuat maengket kehilangan pesona ekosistemnya bila dipentaskan di panggung buatan bukan di halaman dengan latar belakang alam natural, gunung, kampung, panen padi, menu Minahasa yang disediakan di meja panjang dan anak-anak yang berlari ke sana kemari.

Tarian Katrili di Kampung Motoling, Minahasa Selatan, tahun 2015. Foto oleh Fendry Panombon, Sarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Tarian Katrili di Kampung Motoling, Minahasa Selatan, tahun 2015. Foto oleh Fendry Panombon, Sarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Fendry Panombon)

Dalam bukunya, Pendeta Graafland antara lain menuliskan tentang maengket seperti berikut. Graafland menyatukan maengket dengan panen padi. Orang-orang bernyanyi ketika sedang memetik padi. Lagu-lagu itu kadang kala merupakan seruan kepada para dewa.

Empung wana kawiley e rumoros o mey, ya omey. Rumoros o mey wana bawo um bene en minareressako wene, ya yo momey owey (Empung yang ada di pohon mangga, turunlah. Turunlah dekat padi, karena padi-padi ini bertumpuk dan saling menindih, saling mendorong).

Setelah panen padi, dalam perjalanan pulang pada malam hari mereka berteriak, bersorak dan memekik. Tiba di rumah mereka berpesta, dan bulan terang sangat diinginkan waktu itu. Mereka melakukan seni maengket. Dalam maengket ini, para perempuan dihiasi tangkai padi yang mereka lingkarkan di atas kepala (seperti mahkota atau corona).

Mereka (para perempuan) memegang sapu tangan (lenso) yang dilambai-lambaikan dan berpakaian rapi. Mereka membentuk lingkaran di jalan atau di lapangan di negeri (kampung) sambil membawakan lagu-lagu.
Lagu-lagu itu semula dipersembahkan dalam pesta hasil panen dan sebagai ungkapan rasa terimakasih (bersyukur) kepada para dewa. Tapi, lirik-liriknya segera berubah..........mereka jatuh dalam kata-kata (lirik-lirik lagu) yang sangat tidak sopan dan berakibat merusak (moral).

Begitulah laporan Pendeta Graafland tentang maengket 150 tahun lalu. Saya mencatat, Pendeta Graafland memperlihatkan kesatuan maengket dengan alam dan devosi pada “sang transenden”.

Maengket di Manado, Sulut, 2014. Foto karya Fendry Panombon, Sarjana Filaafat dari Univeristas Gajah Mada Yogyakarta
Maengket di Manado, Sulut, 2014. Foto karya Fendry Panombon, Sarjana Filsafat dari Univeristas Gadjah Mada Yogyakarta (Fendry Panombon)

Pendeta Graafland memberi penekanan maengket, bertalian dengan panen padi dan pesta. Panen padi adalah simbol ekonomi pertanian rakyat yang membawa kemakmuran, maka berpestalah mereka. Dalam pesta dengan maengket inilah mereka, kata Pendeta Graafland, jatuh dalam suasana tidak sopan. Di halaman lain bukunya, Pendeta Graafland mengatakan maengket bukan tarian tapi bagian dari seni budaya.

Pendeta Graafland juga menuliskan dalam bukunya tentang makaria dan maramba. Makaria, kata Pendeta Graafland, berarti bersama-sama atau bersahabat. Di sini tersirat makna (kawanua). Mereka berkumpul dalam satu lingkaran, saling bergandengan tangan dan menari.

Awal tarian makaria ini lamban, tapi kemudian semakin cepat dan lincah sampai pada akhirnya para penari melompat-lompat dan membuat gerakan-gerakan tidak sopan. Lagu-lagunya yang berawal memanggil empung juga berlanjut ke hal yang menghilangkan kesopanan. Mereka saling mendorong sampai akhirnya sampai pada keadaan saling menindih.

Maka Pendeta Graafland dalam bukunya mengecam keras makaria dan maengket saat itu, 150 tahun lalu. Pendeta Graafland juga memberi catatan dalam bukunya, Dua pengjinjil pertama di Minahasa, Johan Gottlieb Schwarz dan Johan Frederik Riedel berusaha memimpin rakyat dalam soal tata krama dan kesopanan moral Kristen.

Penginjilan yang dipelopori Schwarz, Riedel, Graafland dan para penginjil Kristen lainnya, tentu banyak mempengarui perkembangan maengket, maramba, makaria, tari kabasaran, pesta syukur dan tentu budaya Minahasa sampai kini.

Tentu setelah kekristenan berkembang, maengket dan makaria ikut berkembang dengan azas-azas Kristen hingga kini. Tapi tentu kesatuan dengan alam secara natural tetap terjaga dan menjadi bagian budaya Minahasa.

Jangan Maniso dan Bertele-tele

Dalam webinar tanggal 17 July 2020 lalu yang diadakan Angelica Tengker, pembicara Benny Matindas memberi catatan cukup sinis terhadap para pelaku maengket, terutama para perempuan. Mereka, sering tampil dengan pakaian “mahal” dan sebelum tampil masuk dulu ke salon berjam-jam. Padahal, kata Benny Matindas, banyak pemburu seni dari luar yang lebih suka penampilan seni dengan kostum sederhana bahkan kumuh.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved