Senin, 11 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tips Hadapi Virus Corona

Normal Baru Era Covid-19, Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia Dorong Pengajaran Alternatif

pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengupayakan fasilitas-fasilitas pendukung.

Tayang:
Editor: Aldi Ponge
Istimewa
Ilustrasi New Normal 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pandemi Corona Virus Deases 2019 (Covid-19) yang menyerang dunia mengubah tatanan kehidupan di seluruh dunia.

Pendidikan merupakan salah satu yang terdampak signifikan sehingga harus segera beradaptasi. Pengajaran online mendadak menjadi metode umum yang digunakan.

“Ada 4 ribu lebih perguruan tinggi yang melayani lebih dari 8 juta mahasiswa dengan jumlah dosen lebih dari 290 ribu orang telah secara mendadak dan tanpa kecuali terpaksa mengadopsi model online teaching and learning”, kata Dr.Neil Semuel Rupidara, Rektor Universitas Satya Wacana (UKSW), Salatiga, dalam Webinar “Pendidikan Tanpa Dinding di Era Covid-19” yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI), Kamis (4/6/2020).

Menurut Neil, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengupayakan fasilitas-fasilitas pendukung.

Kerjasama dijalin dengan sejumlah pelaku usaha milik negara maupun swasta yang bergerak di bidang digital learning management system, penyedia jasa internet, dan sejenisnya untuk membantu operasi pembelajaran atau perkuliahan daring.

Namun demikian, lanjutnya, tingkat kesiapan tiap perguruan tinggi berbeda dalam penyelenggaraan.

Sejumlah perguruan tinggi, menurut Neil, sebelumnya telah memiliki sistem dan menjalankan praktek pembelajaran. Tetapi tidak sedikit perguruan tinggi tidak memiliki kapasitas cukup untuk menjalankan perkuliahan secara daring.

“Kuliah atau tepatnya kegiatan pengajaran dengan ceramah online kini seolah menjadi a new normal di kalangan pendidikan tinggi Indonesia. Praktek ini kini seolah mewabah, tampak tidak mau ketinggalan dari wabah Covid-19 itu sendiri”, ujar Neil.

Namun, Neil mengingatkan, metode pengejaran daring memiliki masalah sehingga tidak mudah dilakukan seperti perangkat, jaringan internet, maupun zoombombing (interupsi ketika zoom sedang beroperasi).

Karena itu, menurutnya, tidak mudah merubah dengan tiba-tiba tatanan sebelum pandemi.

“Agar hal-hal baik tertentu yang telah terbentuk selama masa pandemi ini dapat bertahan, diperlukan usaha-usaha sengaja oleh para aktor untuk mempertahakan kebiasaan-kebiasaan baru di masa pandemi itu agar tetap terus berlangsung dan menjadi kebiasaan yang lebih permanen”, ujarnya.

Sementara itu Rektor Universitas Kristen Maranatha (UKM), Bandung, Prof. Sri Widiyantoro pada kesempatan yang sama mengatakan, pelaksanan pengajaran daring membutuhkan syarat yaitu kedisplinan, motivasi tinggi, kemandirian, capaian, dan mahalnya sistem daring.

Selain itu, menurutnya, banyak dosen juga mengalami masalah dalam pelaksanaan sistem daring ini.

“Banyak dosen masih menggunakan gaya tradisional di kelas online, menjadikan online hanya untuk memberikan bahan presentasi, atau pengumuman tugas”, katanya.

Namun demikian, Sri Widiyantoro mengatakan, pandemi ini di sisi lain merupakan blessing in disguise dalam model pengajaran alternatif.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved