Rabu, 20 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Facebook dan Twitter Hapus Kampanye Donald Trump, Video Berisi Aksi Damai Dalam Demo George Floyd

Tragedi penghapusan video kampanye Donald Trump di Facebook dan Twitter tersebut setelah plaftorm masing-masing menerima komplain hak cipta

Tayang:
Editor: Finneke Wolajan
tribun jogja
Donald Trump 

Berbeda dengan Twitter dan Facebook, hingga saat ini, YouTube belum menghapus video kampanye Trump tersebut.

Dihimpun KompasTekno dari The Verge, Selasa (9/6/2020), YouTube mengatakan bahwa, setelah ditinjau, video Trump tersebut tidak tergolong sebagai konten yang melanggar aturan kebijakan YouTube.

Sebab, menurut YouTube, versi video Trump yang diunggah ke platform miliknya berbeda dari video di Twitter dan Facebook, serta tidak mengandung konten yang melanggar hak cipta.

Editor New York Times Mundur Gara-gara Opini yang Dukung Donald Trump

Protes atas opini dari senator Partai Republik itu tak hanya datang dari publik, tetapi juga internal.

Sejumlah jurnalis The Times memutuskan untuk tidak masuk kerja keesokan harinya (4/6/2020) sebagai bentuk protes.

Sebuah opini yang diterbitkan New York Times memicu kecaman publik dan membuat Editor opini harian tersebut mengundurkan diri.

Editor James Bennet mundur setelah artikel yang ditulis Senator Tom Cotton, Send in the Troops, berdampak pada perdebatan di ruang redaksi.

Ulasan dari politisi Republik itu berisi dukungan bagi Presiden Donald Trump, yang mengancam bakal mengerahkan militer untuk meredam kerusuhan dalam demo George Floyd.

Protes dari staf dan publik 

Awalnya, New York Times mempertahankan penerbitan artikel itu, sebelum akhirnya memberikan pengakuan opini itu 'tak memenuhi standar' mereka.

Perubahan posisi itu terjadi setelah editorial yang diterbitkan Rabu pekan lalu (3/6/2020) menuai protes baik dari staf maupun publik.

Bahkan, sejumlah jurnalis The Times memutuskan untuk tidak masuk kerja keesokan harinya (4/6/2020) sebagai bentuk protes.

Bennet, yang menjadi editor opini sejak 2016, mengakui dia sama sekali tidak membaca tulisan dari Cotton sebelum diterbitkan.

Dilansir BBC Senin (8/6/2020), politisi Republik itu menulis perlunya menggunakan 'kekuatan hebat' untuk menghalau massa yang disebutnya 'perusuh'.

Sumber: Warta Kota
Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved