Rabu, 13 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Waspada, Selingkuh Bisa Berawal dari Curhat ke Teman Lawan Jenis

Curhat dengan teman lawan jenis mengenai konflik yang terjadi di dalam sebuah hubungan berisiko terjadinya perselingkuhan.

Tayang:
Editor: Chintya Rantung
iStockPhoto
Ilustrasi Pasangan Berselingkuh 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Perselingkuhan merupakan hal yang sangat tidak diharapakan terjadi dalam sebuah hubungan pernikahan.

Banyak faktor yang menjadi penyebab perselingkuhan.

Curhat dengan teman lawan jenis mengenai konflik yang terjadi di dalam sebuah hubungan berisiko terjadinya perselingkuhan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), selingkuh ialah suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong.

Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hudaniah, mengungkapkan ada sejumlah penafsiran mengenai selingkuh.
Seperti selingkuh hati, menjalin hubungan, maupun selingkuh secara fisik.

"Namun secara umum kalau disebut selingkuh berarti ada ketidaksetiaan yang dilakukan seseorang terhadap pasangan," ujar Hudan kepada Tribunnews.com melalui sambungan telepon, Senin (1/6/2020).

"Adanya keterlibatan emosi antara satu orang dengan orang lain yang bukan pasangan," imbuhnya.

Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hudaniah.
Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hudaniah. (Tribunnews/Istimewa)

Sementara itu Hudan juga menyebut curhat kepada lawan jenis yang bukan bagian dari keluarga dapat berisiko perselingkuhan.

Terlebih, curhat yang disampaikan berkenaan dengan konflik yang sedang terjadi bersama pasangan.

"Lawan jenis (tempat curhat) dianggap memahami, padahal itu hanya karena orang itu tidak berada dalam konflik," ujarnya.

Menurut Hudan, orang lain yang dituju sebagai tempat curhat nampak lebih memahami.

"Orang lain nampak lebih hijau, lebih bisa memahami, padahal itu karena mereka bukan yang sedang bekonflik," imbuhnya.

Hudan menilai upaya curhat seperti ini justru bisa berujung perselingkuhan.

"Jadi ada pemenuhan emosional dari orang lain, ada alternatif lain ke pihak lain ketika ada permasalahan dengan pasangan," ujarnya.

Menurut Hudan, sebisa mungkin pasangan menyelesaikan sendiri konflik yang terjadi tanpa melibatkan orang lain.

"Sebisa mungkin ya diselesaikan pasangan sendiri, namun kadang kala membutuhkan mediator," ungkapnya.

Ketika mediator dibutuhkan, Hudan menyarankan mencari mediator dari pihak keluarga.

"Kalau ada keluarga yang dinilai bijak, yang tidak memihak, bisa disampaikan," ujarnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved