Idul Fitri
Idul Fitri, Lebaran, dan Covid-19
Tema Idul Fitri terdiri dari dua kata: pertama berarti kembali dan kedua adalah suci
Penulis: Dewangga Ardhiananta | Editor: David_Kusuma
Penulis: Yusno Abdullah Otta (Dosen Pascasarajana IAIN Manado)
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Tema Idul Fitri terdiri dari dua kata: pertama berarti kembali dan kedua adalah suci.
Idul Fitri adalah gambaran dari kondisi yang diperoleh oleh setiap Mukmin yang menyelesaikan kewajiban berpuasa Ramadhan.
“Kembali Fitrah” adalah outcome dari ibadah puasa Ramadhan yang diistilahkan al-Quran dengan takwa (Q.S. al-Baqarah [2]: 283). Kualitas takwa mempengaruhi kualitas 'fitrahnya'.
Fitrah yang suci adalah bentuk dari jatidiri yang autentik (Q.S al-Rum [30]: 30). Melalui kesucian fitrahnya, seorang Mukmin tidak saja mampu mempersepsi obyek dan realitas yang terjadi di sekitarnya, melainkan juga menstimulus peningkatan kualitas ke-sadar-annya atas ‘hakikat’ obyek dan realitas.
• Lacak Suami Lewat Aplikasi, Istri Temukan Suami di Mobil dengan Wanita Lain
Sebulan penuh, kurikulum Ramadhan telah mengasah, mengasih, serta mengasuh kejernihan fitrahnya sehingga mampu keluar dari semua model pengaruh ‘hawa nafsu’ (Q.S. Yusuf [12]: 53).
Model fitrah seperti demikian yang menjadi modal terbaik seorang Mukmin dalam menjalani sebelas bulan ke depan sampai bertemu lagi dengan bulan Ramadhan; seperti yang disarankan oleh Imam al-Ghazali.
Lebaran sebagai ungkapan kegembiraan atas keberhasilan mengikuti diklat selama Ramadhan. Suasana lebaran tahun 1441 H ini tidak semeriah dari tahun-tahun sebelumnya karena imbas dari pandemi covid-19. Untuk memahami kondisi ini dapat dilihat dari dua perspektif: material dan spiritual.
Mayoritas Muslim merasa kehilangan momentum kesenangan yang dirasakan dan dinikmati setiap lebaran. Baju baru, kue lebaran, makanan siap saji serta aneka hiburan tidak bisa ditunaikan secara sempurna sebagaimana pada lebaran sebelumnya.
• Gara-gara Isu Hong Kong hingga George Floyd, Reli Wall Street bisa berhenti
Tidak ada lagi gegap gempita dentuman suara musik yang terdengar hampir di setiap rumah, sehingga sulit rasanya untuk membedakan apakah ini perayaan ‘kemenangan’ spiritual atau perayaan lainnya.
Namun, di lain pihak, keceriaan spiritual tergambar dengan begitu jelas bagi sebagian kecil kaum Mukmin, terutama para pejalan spiritual.
Mereka begitu menikmati momen idul fitri tahun ini dengan model selebrasi (lebaran) yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw beserta para sahabat.
Bagi kelompok kecil ini memahami bahwa kehadiran covid-19 yang melahirkan protokol pemerintah merupakan media terbaik bagi setiap manusia, terutama Muslim, untuk memaknai kembali nilai dan ajaran agama.
Menggunakan masker untuk menutup mulut, terlebih ketika keluar rumah, sejatinya tidak sekedar menutup mulut, melainkan juga menjaga kata-kata dan tutur yang keluar darinya agar tidak menyakiti perasaan orang lain.
Seringkali seseorang secara tidak sadar kata-katanya dapat menyakiti perasaan orang yang mendengarnya. Bagi para Sufi, diam adalah emas, karena setiap kata dipertanggungjawabkan (Q.S. Qaf [50]: 17-8; al-Isra [17]: 36).