Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Virus Corona

TAK Perlu Khawatir Jika Memang Virus Corona Bermutasi, Ini Penjelasan Ahli Virologi dan Epidemi

Belum lama ini ditemukan oleh ilmuwan adanya mutasi genetik berupa strain dari virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19.

SHUTTERSTOCK/CORONA BOREALIS STUDIO
Ilustrasi 3D virus corona 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Virus bermutasi menjadi lebih ganas dan berbahaya mungkin sering kita lihat dalam film fiksi ilmiah. 

Namun berbeda dalam kehidupan nyata yang kondisinya tak sedramatis itu. 

Belum lama ini ditemukan oleh ilmuwan adanya mutasi genetik berupa strain dari virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19.

Hal ini tentu terdengar mengerikan.

Namun, seiring ditemukannya strain baru, jumlah laporan yang menyatakan strain tersebut lebih berbahaya sangat sedikit, bahkan nihil.

“Faktanya, mutasi ini sungguh sesuatu yang normal. Virus tercipta untuk berevolusi,” tutur Kari Debbink, ahli virologi di Bowie State University, Maryland, seperti dikutip Science News, Kamis (28/5/2020).

Mutasi dan sekuensing

Sederhananya, virus merupakan senyawa protein yang memiliki material genetik DNA atau RNA. Dalam kasus SARS-CoV-2, virus tersebut memiliki RNA bernama nucleotides.

Nucleotides ini menyediakan kode untuk membangun asam amino yang berbentuk duri (spike) pada virus. Sebuah mutasi berarti perubahan yang terjadi pada nucleotides. Pada virus SARS-CoV-2, berarti satu dari 30.000 nucleotides.

Perubahan seperti ini memberi titik terang bagi para ilmuwan untuk mengumpulkan sekuens virus SARS-CoV-2. Berkat mutasi ini, para ilmuwan dapat melakukan sekuens terhadap RNA virus dalam menginfeksi manusia.

Para ilmuwan dapat memprediksikan di mana dan bagaimana virus corona menyebar pada sebuah populasi. Perlu diingat, setiap virus adalah individu yang berbeda dengan susunan genetik yang berbeda pula.

Faktanya, virus corona jenis SARS-CoV-2 bermutasi dalam jangka waktu yang lebih pendek dibandingkan influenza.

Mutasi tidaklah berbahaya

Mutasi bisa memengaruhi virus dalam berbagai cara, tetapi hanya beberapa jenis mutasi yang bisa membuatnya lebih berbahaya untuk manusia.

Bisa jadi, apabila virus tersebut mengubah cara infeksinya terhadap sistem imun atau membuatnya lebih resisten terhadap pengobatan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved