Update Virus Corona Sulut
Parno Ke Dokter, Tunda Kehamilan dan Tahan Sakit Gigi
Namun ia urung melakukannya karena keadaan seseorang yang berlebihan dalam rasa takut, curiga, khawatir dan cemas (Parno) Covid 19.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Maickel Karundeng
TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Harusnya pertengahan bulan Mei, Imelda Wati, warga Desa Kalawat, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), memeriksakan kawat giginya ke dokter gigi.
Namun ia urung melakukannya karena keadaan seseorang yang berlebihan dalam rasa takut, curiga, khawatir dan cemas (Parno) Covid 19.
"Padahal dokter langganan saya pakai APD lengkap, tapi saya ketakutan," kata dia.
Ia memilih menanti wabah Covid 19 reda untuk membereskan gigi behelnya.
Sebanyak 30 tenaga kesehatan di Sulut terpapar Covid 19.
Mereka tak hanya berasal dari kluster fasilitas kesehatan A dan B, tapi juga kasus individual.
Hal ini menerbitkan ketakutan sejumlah warga untuk memeriksakan diri ke dokter.
"Anak saya sakit gigi, tapi saya tak mau bawa ke dokter, bukan apa apa tapi hanya mencegah saja," kata Iwan
warga Kotamobagu.
Untuk meredakan sakit gigi, ia menggunakan obat warung.
Tak terlalu ampuh memang.
"Tapi lumayanlah daripada ambil risiko," katanya.
Sementara Derek warga Kotamobagu dan sang istri sepakat tunda hamil.
Mereka enggan keluar masuk klinik dan rumah sakit.
"Terus terang saja kami ketakutan," kata dia.
Ia menjelaskan tindakan tersebut bukan berarti mereka menuding tenaga medis.