Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Krisis Dunia

Selain Virus Corona, Ini 5 Krisis Besar Dunia: Perlombaan Senjata Nuklir hingga Perubahan Iklim

Perselisihan atas penarikan diri sepihak AS dari perjanjian nuklir Iran atau resmi disebut Joint Comprehensive Plan of Action-JCPOA akan memburuk.

Editor: Rizali Posumah
afp
Senjata Nuklir Rusia. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pandemi Covid-19 membuat banyak isu internasional lain luput dari sorotan media.

Di seluruh dunia, virus corona mewabah, mematikan dan berdampak pada sebagian bersar sisi di kehidupan manusia.

Mencuatkan berbagai macam pertanyaan, tidak hanya tentang bagaimana kita menanggapi krisis corona saat awal muncul, tetapi juga tentang cara mengatur masyarakat dan cara kita menjalani urusan keseharian.

Sejumlah isu besar internasional telah tersingkirkan sejak pecahnya pandemi dan sekarang mungkin sudah terlambat untuk mengatasinya.

Beberapa pemegang tampuk pemerintahan juga berusaha memanfaatkan pandemi Covid-19 untuk mengejar ambisi lama.

Berikut ini lima isu internasional yang patut kita perhatikan dalam pekan-pekan ke depan atau bahkan beberapa bulan ke depan.

Perlombaan senjata nuklir yang diperbarui?

Perjanjian Pengurangan Persenjataan Strategis, atau "New START", yang mengatur persenjataan nuklir, di mana AS dan Rusia menggunakannya untuk saling mengancam, akan berakhir pada awal Februari tahun depan.

Waktu semakin menipis jika perjanjian tersebut ingin diperbarui. Perjanjian ini merupakan kesepakatan pengendalian persenjataan yang diwariskan sejak perang dingin dan masih bertahan sampai sekarang.

Tanpa pembaruan perjanjian itu, muncul kekhawatiran nyata akan terjadi perlombaan senjata nuklir baru karena tidak adanya penghambat dan berkurangnya transparansi.

Fakta bahwa senjata esoteris seperti rudal hipersonik yang sangat cepat sedang dikembangkan menambah ancaman mengenai perlombaan senjata baru.

Rusia tampaknya bersedia memperbarui perjanjian, yang berarti prosedurnya akan sederhana.

Sementara pemerintahan Trump, tampaknya, bertekad untuk meninggalkan perjanjian "New START" kecuali jika ia dapat memperluas perjanjian tersebut dengan membawa China masuk.

Namun, di Beijing jelas, sama sekali tidak ada minat untuk bergabung dengan rezim ini. Dan sekarang sudah terlambat untuk merancang dokumen baru yang komprehensif.

Jadi, kesepakatan "New START" (yang akan berakhir pada awal Februari 2021) tampaknya akan menjadi sejarah, kecuali jika Washington berubah pikiran, atau ada pemerintahan yang baru.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved