Kisah Hidup Cak Lontong Sebelum Sukses, Pernah Tahan Lapar Tapi Rajin Sisihkan Rejeki untuk Ayahnya
Cak Lontong yang hidup sendiri di Jakarta setiap harinya harus menahan lapar karena uang pas-pasan dan kerjaan pun belum ada
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kisah hidup Cak Lontong sebelum sukses, pernah tahan lapar tapi rajin sisihkan rejeki untuk ayahnya
Awal karir Cak Lontong penuh perjuangan sebelum ia sukses seperti saat ini.
Berhari-hari dirinya harus pergi kesana kemari untuk mencari pekerjaan sebagai pelawak.
"Kondisi saya saat di Jakarta itu nggak ada saudara nggak ada uang untuk makan. Kalau anak istri tanya lagi apa, saya bilang lagi syuting dan ketemu orang," kata Cak Lontong dalam sebuah seminar online, Jumat (15/5/2020).
Cak Lontong yang hidup sendiri di Jakarta setiap harinya harus menahan lapar karena uang pas-pasan dan kerjaan pun belum ada. Tak jarang dalam sehari ia hanya mampu makan satu kali.
"Jadi saya untuk makan susah, tapi terlatih jaga kelaparan. Saya menyiasatinya itu dengan ke toko dekat kontrakan, saya jajan yang manis-manis seperti sepotong kue sama teh botol itu bisa buat seharian," ujarnya.
"Kalau dapat uang pun harus disisaskan untuk makan besok. Bukan berartk makan nasi lauk banyak ya tapi yang sepotong roti itu lagi," katanya
Sebagai anak yang hanya memiliki seorang ayah saat itu, ia ingin tetap bisa menyisihkan sebagian rejekinya untuk dikirim ke kampung.
Dan siapa sangka, baktinya kepada orangtua itu lah yang dirasakan Cak Lontong mampu membukakan pintu rejeki baginya yang kala itu kesulitan mencari pekerjaan.
Karier
Nama Cak Lontong sebagai pelawak sudah punya karakter tersendiri. Kekhasan itulah yang membuat ia berbeda dengan pelawak lainnya, seperti mengucapkan salam lemper sebagai kata pembuka sebelum melawak.
Selama ini Cak Lontong dikenal sebagai pelawak yang jago plesetan dan anekdot. Ia dituntut untuk cerdas, rada nyinyir, bisa menganalisis, dan mampu menawarkan solusi dari setiap topik yang diangkat.
Ia pun juga menjelaskan jika seorang komika menyalahkan penonton, itu bukan komika sejati, tetapi komika yang manja. Padahal tugas komika adalah menghibur penonton. Jika komika tidak bisa menghibur penonton, maka tugas komika gagal. Bukan penonton yang disalahkan, karena kegagalan si komika. Justru si komika yang tidak mampu memahami suasana.
Diakui Cak Lontong, saat ini banyak komika yang tampil dengan materi bersingungan dengan kritik sosial dan SARA. Padahal banyak materi yang tidak harus membuat sakit hati orang karena menurutnya, tugas komika itu menghibur orang banyak.
Guna menghindari materi yang menyinggung, Cak Lontong selalu mencari materi dari premis-premis sederhana baik dari sebuah kata atau istilah, misalnya tentang kata sabar, takut, atau istilah mikir dan gaptek.