Senin, 13 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pemimpin Anti-Lockdown AS Terjangkit Corona

Pemimpin gerakan anti-lockdown Carolina Utara, Amerika Serikat (AS), Audrey S Whitlock tidak bisa mengikuti dua kali unjuk rasa

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Ist/Facebook
Pemimpin Gerakan Anti-Lockdown AS, Audrey S Whitlock 

TRIBUNMANADO.CO.ID, WASHINGTON – Pemimpin gerakan anti-lockdown Carolina Utara, Amerika Serikat (AS), Audrey S Whitlock tidak bisa mengikuti dua kali unjuk rasa yang dijadwalkan karena positif terjangkit Coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Kelangkaan LPG di Kotamobagu Akibat Keterlambatan Distribusi

Dilansir dari New York Post, Whitlock yang mengelola Halaman Facebook ReOpen NC memasuki masa karantina selama dua pekan yang berakhir pada Minggu (26/4/2020) setelah positif terjangkit Corona.

Di halaman Facebook itu terdapat keterangan bahwa kebanyakan anggota gerakan anti-lockdown merupakan pemilik bisnis dan karyawan yang kehilangan pendapatan mereka sehingga tidak bisa memberikan hak-hak keluarga mereka. "Kami bersama-sama menuntut aksi dari para pejabat," ungkap keterangan di grup tersebut.

Di dalam sebuah unggahan di Facebook, Whitlock menulis, "Saya akan mengambil sikap setiap hari sampai kita menjadi orang bebas lagi, untuk memperingatkan karena seseorang harus melakukan hal yang benar dalam menghadapi kesalahan."

Dia juga menulis tentang bagaimana pembatasan yang diberlakukan di tengah pandemi Covid-19 telah melanggar hak Amandemen Pertama serta hak Amandemen ke 5 dan 14. Dia mengatakan dia 'dipaksa' memasuki karantina yang mana hal itu sebenarnya melanggar hak Amandemen Pertama.

Sementara itu, Whitlock yang terjangkit corona mengabarkan, "Saya masih berada di ruang isolasi/karantina mandiri di rumah saya sesuai arahan departemen kesehatan distrik. Saya belum menghadiri acara untuk ReOpen NC."

KPK Sepenuhnya Menyerahkan Wewenang Penahanan Romahurmuziy Kepada MA

Ketika Whitlock berada dalam isolasi mandiri, kelompok unjuk rasa mengadakan dua demonstrasi di Raleigh, ibu kota Carolina Utara meminta gubernur negara bagian itu untuk mempercepat aturan tinggal di rumah yang berlaku hingga 8 Mei.

Sebanyak 18 anak tertular Covid-19 dari ibu mereka di New York
Sebanyak 18 anak tertular Covid-19 dari ibu mereka di New York (WHAM via dailymail.co.uk)

Zona merah

Korban tewas akibat Covid-19 di Amerika Serikat pada Selasa (28/4) waktu setempat atau Rabu WIB melebihi jumlah warga Amerika yang meninggal selama perang Vietnam. Korban tewas Covid-19 di AS mencapai 58.355 orang sedang yang terinfeksi lebih dari 1 juta orang.

Jumlah kasus Covid-19 di Amerika Serikat (AS) meningkat dua kali lipat dalam 18 hari dan merupakan sepertiga dari semua infeksi di dunia. Jumlah aktual kasus dianggap lebih tinggi, sedang pejabat kesehatan masyarakat negara bagian memperingatkan adanya kekurangan pekerja terlatih dan peralatan.

Sekira 30 persen kasus terjadi di negara bagian New York, pusat penyebaran wabah AS, diikuti New Jersey, Massachusetts, California, dan Pennsylvania. Pada Selasa jumlah korban meninggal naik lebih dari 2.000 dari hari sebelumnya.

Secara global, kasus infeksi Covid-19 telah melampaui 3 juta sejak wabah dimulai di China akhir tahun lalu. Amerika Serikat, memiliki populasi terbesar ketiga di dunia, memiliki kasus lima kali lebih banyak daripada negara-negara yang paling parah terdampak, semisal Italia, Spanyol, dan Prancis.

Dari 20 negara yang paling parah terdampak, Amerika Serikat menempati urutan kelima berdasarkan kasus per kapita. AS memiliki sekitar 30 kasus per 10.000 orang. Spanyol menempati urutan pertama, lebih dari 48 kasus per 10.000 orang, diikuti oleh Belgia, Swiss, dan Italia.

Tambuwun Resmi Jabat Kepala UPTD Kebun Raya Megawati Soekarnoputri

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), selain melebihi jumlah korban perang Vietnam, jumlah korban Covid-19 di AS juga melampaui jumlah kematian akibat flu musiman dalam beberapa tahun terakhir, kecuali untuk musim 2017-2018,.

Kematian karena flu berkisar dari pada angka 12 ribu pada musim 2011-2012 hingga 61 ribu selama periode 2017-2018. Kematian akibat Covid-19 di AS lebih sedikit dari data 100 ribu orang Amerika yang tewas akibat flu musiman pada tahun 1967. Jumlah itu juga jauh lebih kecil dari korban tewas dalam wabah flu Spanyol, yang dimulai pada 1918 dan menewaskan 675 ribu orang Amerika.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved