Selasa, 5 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Update Virus Corona Dunia

Studi Harvard Sebut Social Distancing Bisa Diberlakukan Sampai 2022 Bila Tak Ada Vaksin dan Obat

Sebuah studi dari Harvard University mengabarkan hal yang muram tentang wabah virus corona/Covid-19.

Tayang:
Editor: Alexander Pattyranie
wikimedia.org
Harvard University 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MASSACHUSETTS - Sebuah studi dari Harvard University mengabarkan hal yang muram.

Padahal, presiden Amerika Serikat berencana membuka kembali perekonomian AS.

Dikutip dari Kompas.com, Kamis (16/04/2020), studi yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah mengatakan bahwa

penerapan social distancing yang berselang-seling kemungkinan dibutuhkan sampai kira-kira tahun 2022

mendatang jika tidak ada vaksin atau obat farmasi yang mampu menyembuhkan virus corona.

Penelitian itu mengungkapkan bahwa total kejadian infeksi akibat Covid-19 selama lima tahun ke depan akan

sangat bergantung pada sirkulasi teratur setelah gelombang pandemi di awal. 

Pada akhirnya, tergantung pada durasi kekebalan yang diberikan oleh infeksi Sars-Cov-2 itu.

Para peneliti mempelajari virus corona lain yang berkaitan dengan virus corona jenis baru (saat ini)

yang menyebabkan Covid-19 mensimulasikan sejumlah hasil potensial untuk pandemi saat ini.

Mereka berpendapat menerapkan langkah-langkah jarak sosial yang dilakukan hanya satu kali dapat

mengakibatkan "epidemi puncak tunggal berkepanjangan" yang melelahkan sistem perawatan kesehatan.

"Jarak yang terputus-putus (berselang-seling) mungkin diperlukan hingga tahun 2022 kecuali jika kapasitas

perawatan kritis meningkat secara substansial atau pengobatan atau vaksin (telah) tersedia," begitu ungkap

para peneliti dalam studi tersebut.

Menurut penelitian dari studi tersebut, simulasi transmisi (penularan) ditemukan pada :

- Semua skenario model, SARS-CoV-2 mampu menghasilkan wabah besar terlepas dari waktu pembentukan.

- Sama seperti pandemi influenza, banyak skenario menyebabkan SARS-CoV-2 memasuki sirkulasi

jangka panjang bersama dengan virus beta corona manusia lainnya.

- Variasi penularan musiman yang tinggi dapat menyebabkan insidensi (angka kasus) puncak yang lebih kecil

selama gelombang pandemi awal, namun wabah musim dingin dapat menyebabkan pengulangan insidensi

yang lebih besar.

- Kekebalan jangka panjang secara konsisten menyebabkan eliminasi efektif SARS-CoV-2 dan

insiden infeksi keseluruhan yang lebih rendah.

- Tingkat kekebalan silang yang rendah dari virus beta corona lain terhadap SARS-CoV-2 dapat membuat

SARS-CoV-2 tampak mati, hanya untuk muncul kembali setelah beberapa tahun.

(Kompas.com/Miranti Kencana Wirawan)

BERITA TERPOPULER :

 Pengakuan Mengejutkan WHO: Mayat Pasien Covid-19 Bisa Dimakamkan Sesuai Tradisi & Agamanya, Mengapa?

 Banyak Warga Hilang Pekerjaan, Anies Baswedan: Kalau Hilang Nyawa Tak Tahu Cara Mengembalikan

 Percakapan Terakhir Ayah dan Anak Sebelum Meninggal Karena Covid-19: Papa Sudah Lemes

TONTON JUGA :

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Studi Harvard: Tanpa Vaksin dan Obat, Social Distancing Bisa Diberlakukan Sampai 2022"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved