Breaking News:

Paskah dan Jumat Agung

Kisah Guru di Puncak Golgotha, Meski WajahNya Bersimbah Darah tapi KasihNya Tak Pernah Sirna

Hari ini, Jumat (10/04/2020), seluruh umat Kristen memperingati Jumat Agung.

Editor: Alexander Pattyranie
Istimewa/https://triaskun.id/ via Wartakotalive
Ponsius Pilatus cuci tangan, melepaskan tanggung jawab akan nasib Yesus 

Cintailah musuh-musuhmu seperti kamu mencintai dirimu sendiri,” kata Guru suatu ketika. "Si vis amari, ama.., Jika engkau ingin dicintai, maka cintailah…” begitu kata Guru berkali-kali.

Tetapi, ketika Ia menderita, Ia kesendirian. Orang-orang yang dicintainya, malah meninggalkannya. Namun, bagi Guru, kesendirian bukan berarti tak ada cinta. Dalam kesendirian justru cinta menyempurnakannya.

Kata Guru, "Aku mencintai, karena itulah aku ada.” Hanya cintalah yang dapat membawa setiap individu menuju kesempurnaan hidup sebagai individu.

Cinta memungkinkan manusia semakin bersatu dengan yang lain tanpa kehilangan keunikan masing-masing. Karena itu, “Marilah kita juga memberi cinta," katanya. 

Cinta hanya sepotong kata; ibarat air yang bisa menguap karena kepanasan; ibarat mega-mega putih di langit biru yang bisa hancur berantakan berubah bentuk disapu angin; ibarat mendung hitam yang berubah menjadi hujan dan turun ke Bumi yang lalu menelannya atau masuk ke sungai mengalir ke laut. 

Tetapi, sepotong kata itu, cinta, oleh Guru diberi makna. Dan, diwujudkan sehabis-habisnya, bahkan hidupnya pun direlakan demi cinta.

Dan karena itu, Guru menawarkan jalan cinta. Ia adalah inisiator cinta.

Guru lebih dulu mencintai para muridnya, dan siapa pun yang mendambakan kehidupan damai, yang menjunjung nilai-nilai persaudaraan, yang peduli kepada sesama, yang tidak menutup mata dan hati bagi sesama meskipun berbeda dalam segala hal.  

Memang,  meskipun mengajarkan kelemah-lembutan dan rasa hormat, namun kadang-kadang kata-katanya keras dan bahkan provokatif, terutama terhadap para pemegang kuasa yang menyeleweng, yang mementingkan diri sendiri, mementingkan keluarga, kelompoknya, dan juga yang korup materi dan menyalahgunakan kekuasaan.

Guru juga mengecam para pemuka agama yang munafik, yang menganggap diri paling suci, yang sok saleh,  dan gampang menuding orang lain sebagai orang berdosa, dan kafir.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved