Sabtu, 2 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sudah 1500 Peti Jenazah untuk Korban Covid-19

Permintaan peti jenazah untuk jenazah Covid-19 di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta membuat Charles Siahaan (30)

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TribunJakarta.com/Muhammad Rizki Hidayat
Ilustrasi peti jenazah 

Tidak boleh karena dari Pemda tidak boleh. Hanya bisa mengantar peti meninggalkan peti dan balik. Begitu juga besoknya. Biar tenang mereka semua yang bertugas. Dan kalau ada permintaan keluarga yang minta peti dari yang di luar yang sudah disediakan itu tidak bisa. Mereka harus punya izin dari pihak Kamar Jenazah.

Takutnya jenazah ini korban Covid-19. Tidak boleh, makanya harus minta ijin. Ditanya dulu, status yang meninggal ini status apa. Apakah dia bukan Corona, PDP atau sudah positif. Ada statusnya, maka itu tidak bisa sembarangan.

Saya kemarin menghadapi juga begitu. Ternyata jenazah status dalam PDP, yang ketika saya mengantar peti kemarin. Kalau udah PDP, akan diurus Pemprov DKI.

Per hari harus 20 unit peti, bisa dijelaskan kesulitan memenuhi permintaan tersebut?

Sebelum ada Covid-19 per hari kita biasanya bikin 10 unit. Kalau sekarang harus 20, kita kesulitan tenaga kerjanya saja. Jadi dengan jumlah yang terbatas kita akhirnya harus kerja 24 jam nonstop. 20 peti jenazah Covid-19. Saya juga sudah sampaikan kepada pihak penyumbang bahwa kita punya masalah kekurangan tenaga.

Selain itu jarak dengan warga harus kita pertimbangkan ketika membuat peti. Tengah malam orang-orang pada tidur kita "Kletang-kletung" buat peti. Karena di sini kita kerja, di sana sudah nagih.

Kebijakan Baru Pemerintah, Cuti Bersama Idul Fitri 2020 Digeser Ke Akhir Tahun, Berikut Tanggalnya

Hari ini kita kerja malam, besok siang harus sudah diantar pukul 12:00 WIB. Karena itu yang namanya Covid-19 ini jenazahnya harus langsung dikubur, tidak boleh lewat dari tiga jam.

Kalau lewat dari tiga jam bisa berbahaya bagi orang lain.

Jadi harus berpacu dengan waktu juga ya?

Iya mas. Tepat. Kurang tidur, kurang istirahat. Tapi ya mau tidak mau, sifatnya relawan ya mau tidak mau kita harus kerjakan.

Pandangan pribadi mas Charles soal menjadi relawan pembuat peti jenazah Covid-19?

Kalau kita jujur sih kita sifatnya relawan. Untuk membantu saja. Tapi kalau kita egois, maaf, bisa saja kita mahalin. Kalau sini orang-orang bilang soal karma, ada yang baik dan buruk. Jadinya mau tidak mau saya dan kita semua relawan harus memberi yang terbaik.

Mas Charles kadang harus nombok dan kesulitan dana, bagaimana itu mas?

Satu, bahan buat peti itu di luar mahal. Kedua cat untuk peti. Tapi karena kita sifatnya sosial kadang ada yang menyumbang semua kebutuhan untuk membuat peti ini. Kadang kita ada modal sekian, kita buat cukup untuk membuat peti ini. Kadang saya juga minta tolong kepada yang jual supaya tidak memainkan harga.

Memang harus ada keikhlasan di sini. Dan juga perlu kesabaran, biarpun kita dimarahin warga karena jam tidurnya terganggu, saya maklum. Tapi saya juga syukur karena warga pun akhirnya maklum kalau saya sedang buat peti malam-malam.

Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved