Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Update Virus Corona Sulut

Kisah Tukang Bentor di Tengah Pandemi Covid-19, 'Kalau Tinggal di Rumah, Kami Mati Kelaparan'

Keluar rumah, kemungkinan terpapar Virus Corona. Berdiam di rumah, mati kelaparan. Yanto memilih opsi kedua

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
Tribun manado / Arthur Rompis
Tukang Bentor di Bolmong terdampak Covid-19 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Keluar rumah, kemungkinan terpapar Virus Corona. Berdiam di rumah, mati kelaparan. Yanto memilih opsi kedua.

Tukang bentor asal Desa Motabang, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong ini, tetap menarik bentor di
tengah larangan keluar rumah dan physical distancing untuk mencegah penularan wabah virus Covid - 19.

"Kalau saya berhenti menarik, lantas siapa yang kasih makan istri dan anak saya. Istri tidak kerja dan anak - anak masih kecil," ujar dia.

Dikatakan Yanto, menarik bentor di tengah mewabahnya Covid-19 sungguh tak mudah.
ASN dan anak sekolah libur.

Antisipasi Covid-19, Pemkot Kotamobagu Buka Layanan Hotline

"Padahal mereka pelanggan utama, orangtua juga sudah jarang ke pasar," kata dia.

Pendapatannya menurun tajam. Dari biasanya Rp 100 ribu per hari, tinggal Rp 40 ribu.

"Sehari penuh narik dapatnya hanya segitu, dulunya setengah hari saja bisa Rp 100 ribu," kata dia.
Potong ongkos bensin dan lainnya, tinggal 20 ribu yang ia bawa pulang.

PD Cita Waya Esa Keluarkan Imbauan Bagi Pembeli dan Penjual di Pasar

"Harga-harga naik terus, gula saja sekilogramnya kini 20 ribu," kata dia.

Asni pedagang di pasar mengaku tetap berjualan di tengah semakin kuatnya anjuran untuk tinggal di rumah.
Ekonomi adalah alasan utamanya.

"Siapa yang mau kasih makan mereka, apakah pemerintah bisa memberi makan semua orang yang terdampak, kalau bisa saya akan di rumah saja," katanya.

Asni sudah lama menjanda. Dia membiayai kehidupan dua anaknya yang sudah duduk di bangku
kuliah dan SMP dengan berjualan di pasar.

KPU Bolmut Nonaktifkan 30 PPK di Enam Kecamatan

Kedua anaknya itu sudah diungsikan ke rumah nenek mereka di Dumoga.

"Jika saya terjangkit corona dari pembeli pasar, biar saja saya yang mati, kedua anak saya harus tetap hidup," beber dia dengan berkelakar.

Ada getir dalam kelakarnya itu. Meski demikian ia enggan takabur.

Alasan I Made Wirahadi, Si Spesialis Pengantar Ke Liga 1 Datang ke Sulut United

"Saya tetap jaga diri, tidak terlalu dekat dengan orang. Selalu pakai masker dan sarung tangan," beber dia.
Menurut dia, pendapatannya per hari jauh berkurang.

Namun masih cukup baginya untuk mengirim uang setiap minggunya.

"Memang agak kurang, warga juga jauh berkurang, jam pasar juga dibatasi," kata dia.(art)

UPDATE: 1 Pasien Positif Covid-19 yang Baru Bertambah di Sulut Merupakan Warga Tomohon

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved