Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

TNI-Polri Semprotkan 104 Ribu Liter Disinfektan

Perang melawan Coronavirus disease 2019 (Covid-19) melibatkan kekuatan TNI dan Polri. Polda Sulut menyemprotkan kurang lebih 104 liter

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Tribun manado / Christian Wayongkere
Penyemprotan disinfektan Massal oleh berbagai pihak diinisiasi Polres Bitung untuk meminimalisasi Pandemi Covid 19 

1. Polda Sulut 20 ribu liter

2. Bitung 42 ribu liter

3. Bolmut: 5 ribu liter

4. Kotamobagu 19 ribu liter

5. Bolsel 3 ribu liter

6. Bolmong 15 ribu liter

7. Mitra: 700 liter

Sopir Mikrolet Kota Manado dapat bantuan beras 5 Kg dari Pemerintah Provinsi Sulut, Selasa 31 Maret 2020.
Sopir Mikrolet Kota Manado dapat bantuan beras 5 Kg dari Pemerintah Provinsi Sulut, Selasa 31 Maret 2020. (ryo noor/tribun manado)

Sopir Antre Besar di Kantor Gubernur

Covid-19 telah berdampak bagi ekonomi rakyat. Pemprov Sulut pun berinisiatif membagikan bantuan beras untuk sopir mikrolet di Kota Manado.

PEMBAGIAN beras dilakukan di halaman belakang Kantor Gubernur Sulut, Selasa (31/3/2020).

Terry Umboh, Pengurus DPD Organda pun mengatur proses antrean bantuan besar. Kata dia, pembagian beras ini sebagai bentuk bantuan pemerintah bagi warga terdampak pandemi Covid 19.

Sekitar ratusan mobil mikrolet mengular dari gerbang depan Kantor Gubernur hingga ke pelataran parkir belakang. Para sopir mengantre bersama mobil mereka sejak pagi, demi mendapatkan 5 kilogram beras dari Dinas Sosial Sulut.

Welly, sopir trayek Malalayang, satu di antara yang mengantre. "Saya sudah keluar cari penumpang sejak jam 6, singgah dulu di sini (Kantor Gubernur) ambil beras," ujarnya.

Situasi saat ini memang lagi sulit, sopir mikrolet satu yang kena dampak ekonomi. Sudah keluar dari pukul 06.00, Welly mengaku baru mendapat Rp 48 ribu. "Belum ongkos bensin, makan dan setoran," kata dia. Meski tak seberapa, tapi ia mengapresiasi Pemprov Sulut yang sudah membantu.

Sujono, sopir mikrolet lainnya mengaku sudah 2 minggu belakangan ini musim paceklik. "Penumpang kurang, angkut kursi (kosong) terus," ujarnya.
Jika biasa bisa bawa pulang gaji bersih Rp 100 ribu - Rp150 ribu kini setengahnya saja tak sampai. Sujono mengatakan, meski demikian ia tak bisa hanya berdiam diri, tetap harus kerja dengan harapan masih ada penumpang yang bisa dilayani. Ia berharap bencana Covid 19 ini segera berakhir.

Ronald Salu, supir lain lebih memilih parkir mikroletnya. Jika pun keluar, tak dapat untung, malah rugi. "Mobil sudah 2 minggu parkir di rumah," katanya. (ryofer/ang/ana/hem/eas/crz)

Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved