Berita Bolmong
Pecalang saat Nyepi Berkurang, Social Distancing Membuat Warga Non-Hindu Juga Tinggal di Rumah
Di Desa Mopugad, Kabupaten Bolmong, yang jadi pusat perayaan hari raya nyepi di Sulut, jumlah pecalang yang berjaga berkurang dari tahun sebelumnya
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
TRIBUNMANADO.CO.ID - Serangan Virus Covid 19 memicu kepanikan masyarakat.
Di Desa Mopugad, Kabupaten Bolmong, yang jadi pusat perayaan hari raya nyepi di Sulut, jumlah pecalang yang berjaga berkurang dari tahun sebelumnya.
Amatan Tribun, hanya dua pecalang yang berjaga di tugu tengah Desa tersebut.
Keduanya ditemani seorang linmas beragama Muslim.
• Polres Minsel Pasang Baliho Maklumat Kapolri di Tempat Umum
Made Supandra seorang pecalang menyebut, jumlah pecalang berkurang tahun ini.
"Biasanya ada puluhan orang, kini hanya kami," kata dia.
Ia menduga warga takut jadi pecalang karena corona.
Apalagi ada kabar jika sejumlah warga Desa Mopugad berstatus ODP.
• Begini Kronologis Pengeroyokan dengan Menggunakan Sajam di Manado
• BREAKING NEWS: Dua Pria di Manado Dikeroyok Enam ABG dengan Menggunakan Sajam
Made mengaku tak gentar menunaikan tugas mulia itu. "Hidup mati di tangan Tuhan, tapi tentu tidak takabur,
kami selalu jaga diri," kata dia.
Suasana di Kecamatan Dumoga Utara relatif sepi selama perayaan nyepi.
Warga di desa-desa sekitar Mopugad terlihat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Kepada Tribun mereka mengaku mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah demi mematuhi anjuran pemerintah.
• Bantu Pemkab, PMI Minsel Sasar Tempat Ibadah dan Rumah Warga untuk Disemprot Disinfektan
"Kami di rumah saja," kata Parjo warga Desa Tapadaka.
Dikatakan Parjo, setiap nyepi, warga non-Hindu memang mengurangi aktivitas.
Di sisi lain, para pecalang memberi jalan bagi umat non-Hindu yang hendak lewat.
"Adanya imbauan social distancing ini membuat kami juga ikut menghabiskan waktu di dalam rumah," katanya. (art)
• FreshMart Superstore Tegaskan tak Ada Karyawannya Terpapar Virus Corona