Internasional
Erdogan Desak Komunitas Internasional Bantu Rencananya Terkait Imigran, Uni Eropa Khawatir
Erdogan mendesak Uni Eropa membantu rencananya terkait imigran. Namun Uni Eropa khawatir akan terjadi pengulangan krisis migran.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Presiden Turki, Recep tayyip Erdogan berpendapat bahwa krisis imigran akan bisa ditangani jika Eropa mendukung usahanya di Suriah saat bentrok kekerasan pecah antara pengungsi dan polisi di perbatasan Yunani.
Hal ini ia sampaikan pada Rabu (4/3/2020).
Ribuan imigran telah memasuki perbatasan Yunani sejak Presiden Erdogan mengumumkan peringatannya pada pekan lalu bahwa para imigran tidak lagi dicegah usahanya untuk memasuki Eropa.
Tindakan Erdogan ini terjadi setelah Rusia berada di balik serangan udara Suriah yang menewaskan 34 tentara Turki di Utara Suriah, lebih tepatnya di Idlib.
Kini, Erdogan meminta bantuan dari komunitas internasional.
Namun, pihak Uni Eropa khawatir akan berulangnya krisis migran tahun 2015-2016.
Saat itu, lebih dari satu juta imigran menyeberang menuju Eropa dan mengecam pemerasan Turki.
Dengan meningkatnya ketegangan di perbatasan yang melintasi Pazarkule, seorang pejabat Turki mengklaim adanya satu imigran tewas.
Lima orang lainnya dikabarkan luka-luka akibat tembakan langsung dari pihak Yunani.
Pihak Athena sangat membantah klaim itu.
Meski begitu, seorang fotografer media Perancis, AFP sempat melihat tembakan ke arah seorang imigran yang terkena di betisnya.
Memang masih belum jelas apakah dengan peluru atau peluru karet.
Hal itu terjadi ketika imigran atau pengungsi ini berusaha memotong jalan mereka melalui pagar.
Kelompok imigran itu kemudian melemparkan batu ke arah polisi Yunani yang merespon dengan gas air mata.
Sementara beberapa tembakan dan tangisan juga terdengar.
Tak lama, Athena merilis video yang tampaknya menunjukkan polisi Turki menembakkan gas air mata ke penjaga perbatasan Yunani, yang tidak dapat segera dikonfirmasi.
Kembali ke Ankara, pihak Erdogan mengatakan Uni Eropa harus mendukung solusi politik dan kemanusiaan Turki di Suriah jika situasi ingin terselesaikan.
Turki telah menampung hampir empat juta pengungsi.
Sebagian besar dari mereka warga Suriah dan telah memerangi pemerintah Suriah dalam upaya mencegah gelombang masuk lain dari Idlib, wilayah yang didominasi militan garis keras yang diserang Damaskus sejak Desember.
Untuk itu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell dan presiden dewan Charles Michel berjumpa dengan Erdogan di Ankara pada Rabu (04/03/2020).
Pertemuan itu menjanjikan tambahan 170 juta euro atau sekitar 189 juta dollar (Rp 2,6 triliun).
Bantuan itu diberikan untuk kelompok rentan di Suriah.
Borrell mengatakan Uni Eropa mengakui situasi sulit yang dihadapi Turki tetapi lampu hijau Turki untuk para imigran hanya memperburuk situasi.
Berbeda dengan Borrell, menteri luar negeri Perancis, Jean Yves Le Drian mengatakan Uni Eropa tidak akan menyerah pada pemerasan yang dilakukan Turki.
Dan menegaskan bahwa perbatasan benua Eropa akan terus ditutup.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Erdogan Desak Uni Eropa untuk Bantu Rencananya Terkait Imigran".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/presiden-erdogan.jpg)