Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sehari 180 Ton Barang Online Banjiri Sulut: E-Commerce Bantu Ekspor UMKM

Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) Sulawesi Utara perlu lebih aktif bermain di Pasar Bebas Asia Tenggara-Cina

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Tribun Manado / Fernando Lumowa
Kepala JNE Manado, Julianus Barthen Patinggi mengecek barang yang di warehouse JNE Kairagi, Manado, Selasa (21/01/2020) 

Ia menjelaskan, produk UMKM asing mudah masuk karena regulasi bea masuk. Berdasar PMK Nomor 112 nomor/PMK.04/2018 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 182/PMK.04/2016 tentang Ketentuan Impor Barang Kiriman, barang impor yang kena bea masuk ialah senilai 75 dolar Amerika Serikat (AS).

Barang senilai di bawah 75 dolar tak kena bea masuk. "Nah, biasanya kan barang online itu relatif murah. Ada jam tangan tak sampai Rp 100 ribu, baju, celana, sepatu, sendal dan lain," katanya. Beruntung, pemerintah kini sadar dan mengubah regulasi dengan mengeluarkan PMK Nomor 199 tahun 2019 tentang Kepabeanan, Cukai dan Pajak atas Impor Barang Kiriman.

PMK ini mengubah ambang batas pembebanan bea masuk barang impor dari sebelumnya 75 dolar menjadi 3 dolar per kiriman. Aturan ini mulai berlaku pada awal Februari 2020. Dalam aturan ini, rasionalisasi turun dari 27,5 persen-37,5 persen menjadi 17,5 persen. "Secara tidak langsung akan mengerem laju barang masuk dan di sisi lain akan mendorong penerimaan bea masuk lewat Bea Cukai," katanya.

Pangdam Olahraga Bersama di Kodam, Harap Setiap Prajurit Perhatikan Kesehatan

Meskipun demikian, ketimpangan tetap masih akan terjadi karena barang dari dalam negeri yang keluar relatif sulit karena regulasi. Apalagi barang produk UMKM. Barthen bilang persoalan utamanya pada regulasi. UMKM sulit mengekspor karena terkendala status usaha dan perizinan.
"Sekarang ada UMKM mau ekspor tapi wajib berbadan usaha sementara UMKM lokal itu informal, belum badan usaha," katanya.

Belum lagi kewajiban izin ekspor dan surat keterangan asal. Sialnya, dua dokumen ini pangkalnya ialah badan usaha. "Mengurus PT itu butuh belasan juta (rupiah), belum lagi SIUP dan lain-lain," jelasnya.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu menyederhanakan regulasi ekspor. Tujuannya memberi jalan kepada UMKM lokal mengekspor produknya. "Kenapa barang impor lebih mudah sementara produk dari dalam mau dikirim ke luar relatif sulit?" katanya.

Vecky Masinambow, pengamat ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi, mengatakan harga barang online lebih murah karena langsung dari produsen. "Itu kan konsekuensi dari e-marketing," katanya.

Ia melanjutkan, jadi itu sudah gejala dan fenomena di era digital. "Jadi kalau banyak barang yang masuk kan orang-orang belanja pakaian, sepatu dan kebutuhan lain lewat online," jelas Vecky.

Kata dia, kalau kiriman paket banyak sebagai konsekuensi dari era digital.
"Memang sekarang ini perdagangan di mal mengalami kecenderungan menurun," ujarnya. Lanjut Vecky, sekarang sudah era bisnis online. "Sampai suku cadang saja tidak beli lagi di toko onderdil, sebagian sudah beli lewat online," ujarnya.

Ekonom Unima, Dr Robert Winerungan MSi
Ekonom Unima, Dr Robert Winerungan MSi (Istimewa)

Peluang Emas untuk Investor

Robert Winerungan, Pengamat Ekonomi dari Unima mengatakan mungkin di domestik (barang) tidak ada sehingga warga Sulut itu kebanyakan mengimpor antarpulau dibandingkan mengekspor. Karena itu di Sulut perlu ada motivasi bagaimana untuk bisa membuat barang yang dikonsumsi di sini tidak perlu beli antarpulau.

Jadi identifikasi saja barang-barang apa yang suka diimpor oleh warga Sulut sehingga investor lokal ataupun investor dari luar daerah datang ke Sulut untuk membuat pabrik yang dibutuhkan oleh masyarakat Sulut.
Itu peluang emas untuk investor sehingga jika dibuat di Sulut kan barang akan lebih murah dibandingkan mereka harus kirim barang dari luar.

Ini dari dulu saya lihat bahwa ekspor impor antarpulau, ya antardaerah itu, Sulut selalu surplus di impor. Kalau melihat neraca perdagangan antarpulau di statistik tidak pernah minimal berimbang, di sini banyak diimpor.

Padahal bahan bakunya misalnya pakan makanan ayam, pakan untuk makanan babi banyak diproduksi di sini kan dan banyak dipelihara di sini. Makanya kita harus produksi di sini saja.
Imbauan saya untuk pelaku usaha melirik barang-barang itu.

Apa saja yang diminati oleh masyarakat Sulut sehingga bisa diproduksi di sini.
Jangan tanya barangnya tidak ada, tidak boleh begitu harusnya kita bisa diproduksi di sini. (ndo/ang)

Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved