Sehari 180 Ton Barang Online Banjiri Sulut: E-Commerce Bantu Ekspor UMKM
Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) Sulawesi Utara perlu lebih aktif bermain di Pasar Bebas Asia Tenggara-Cina
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) Sulawesi Utara perlu lebih aktif bermain di Pasar Bebas Asia Tenggara-Cina (ASEAN-China Free Trade Agreement). Bumi Nyiur Melambai masih menjadi pesar empuk produk UMKM Cina.
• Wawancara Eksklusif, Ketua KPK: Prinsip Saya Bahagia, Kerja, Sukses
Data dari JNE Manado, barang masuk ke Sulut 897.494 kilogram (897,49 ton) pada November 2019 dan 953.646 kg (953,64 ton) pada Desember 2019. Sementara barang keluar masing-masing 389.376 kg (389,38 ton) dan 465.398 kg (465,39 ton). Artinya, neraca perdagangan Sulut dan Cina masih belum berimbang. Sulut masih minus 56,62 persen dan 51,2 persen pada dua bulan terakhir dari data JNE.
Bila diasumsikan 1 perusahaan ekspedisi mengangkut 900 ton barang online. Di Sulut ada 6 perusahaan ekspedisi paling terkemuka, yakni PT Global Jet Express atau J&T Express, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir dikenal JNE, PT Sicepat Express, PT Pos Indonesia (perseo), PT Tiki Indonesia (Tikindo) dan PT Lion Parcel). Artinya, bisa mengangkut 5.400 ton barang online per bulan atau 180 ton per hari.
Era pasar bebas yang diikuti booming e-commerce turut mendorong produk luar negeri ke Indonesia. Di perusahaan ekspedisi JNE misalnya, sekitar 30 persen dari total barang masuk berasal dari luar negeri. "Paling banyak itu barang dari Tiongkok," kata Kepala JNE Manado, Julianus Barthen Patinggi kepada Tribun Manado, Selasa (21/1/2020).
Sebagai pembanding, pada November 2019, jumlah barang ekspedisi yang masuk ke Sulut menggunakan jasa JNE 897,49 ton. Pada Desember jumlah barang masuk via JNE naik menjadi 953,64 ton. "November-Desember adalah 'peak season' pengiriman ekspedisi," katanya.
Dari jumlah itu, kata Patinggi, 30 persen atau sekitar 250-300 ton adalah barang dari Tiongkok. Termasuk di dalamnya Hong Kong, Taiwan dan Singapura. "Semuanya barang e-commerce yang dibeli online oleh warga Sulut," jelasnya.
Produk fashion mendominasi kiriman asal Negeri Tirai Bambu itu. Aneka pakaian seperti kemeja, celana, kaus, sepatu dan sendal. Jumlahnya mencapai 80 persen. Sisa 15 persen di antaranya produk elektronik seperti handphone, vape dan pods. "Sisanya aksesoris dan kebutuhan rumah tangga. Pernah ada panci, belanga hingga troli bayi pun ada," jelas dia.
Menarik, kata Barthen, barang yang masuk itu merupakan produk UMKM di Tiongkok. "Berbeda dari kita di sini, produk UMKM relatif sulit diekspor," jelasnya. Menurut dia, hal ini tak lepas dari beberapa faktor. Selain e-commerce yang menjadi marketplace terbuka, harga barang (Cina) lebih murah. Pelaku UMKM di luar negeri lebih fasih bermain di marketplace dan memanfaatkan e-commerce.
• Lengserkan Trump: Demokrat Butuh Dukungan 20 Senator Republik
Ia bilang, biaya pengiriman juga relatif lebih murah. Perusahaan e-commerce mendapatkan harga khusus baik pajak barang masuk maupun biaya kirim yang diberikan perusahaan ekspedisi. Apalagi, e-commerce memberi kemudahan lewat sistem cash on delivery (COD). Pembayaran dilakukan kala pesanan tiba di tempat.
Adanya COD, ada barang dari luar negeri yang dikembalikan. Meskipun, kata Barthen, jumlahnya tak sampai 10 persen. "Biasanya barang yang dikembalikan karena tak sesuai dengan yang diharapkan. Di gambar lain, datangnya lain. Ada juga karena kesalahan teknis pemesanan," katanya.
Belanja online lagi tren di era sekarang ini. "Saya biasanya beli, tas, baju lewat belanja online," kata Rima Sari Rangen, saat ditemui Tribun Manado di J&T Kairagi, Senin (20/1/2020). Ia menambahkan, ada beli barang dari luar negeri dan cuma satu saja tapi sudah lupa apa pakaian atau tas. "Harganya terjangkau dan lebih murah di sana cuma ongkosnya yang mahal," kata dia saat mengambil barang pesanan di J&T.
Lanjut dia, kalau belanja dalam satu bulan sekitar 10 kali. Barang lain pun dijual lagi. "Bukan kita pakai, kita jualan kok (reseller)," katanya lalu tertawa. Pungkasnya, kalau belanja online ongkos kirim (ongkir) mahal dan biasanya beli dari Jakarta dan Medan serta satu kali dari luar negeri.
Selain itu, pengemar belanja online mengatakan bahwa banyak kemudahan jika belanja lewat olshop. "Harganya sebenarnya standar kalo di online cuma diskonnya lumayan besar," kata seorang mahasiswi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) pengemar online shop itu.
Ia menyatakan, kalau belanja online biasanya ada tambahan potongan ongkir. "Terus lebih gampang karena bisa langsung dari handphone (HP)," pungkas dia.
Kepala JNE Manado menambahkan, banjirnya produk UMKM asing –utamanya didominasi Tiongkok– tak lepas dari regulasi yang relatif longgar. "Pertama memang ini pasar bebas dan eranya e-commerce. Orang lebih mudah membeli secara online, butuh apa tinggal buka smartphone. Kedua, regulasi impor kita yang memperbolehkan," kata Barthen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kepala-jne-manado-julianus-barthen-patinggi-cek-barang.jpg)