Waspada Polio dan Pneumonia Misterius, Otban VIII Manado Kumpul Stakeholder Bandara Samrat
"Langkah mitigasi sudah dilakukan--bahkan sejak tahun lalu--begita edaran dari pusat turun. Nah, tahun ini kita perketat," katanya.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Maickel Karundeng
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kantor Otoritas Bandar Udara VIII Manado menggelar Rapat Koordinasi Fasilitasi Bandara Sam Ratulangi (Samrat) Manado, Kamis (16/01/2020).
Pertemuan awal tahun bersama para pihak itu membahasa banyak topik terkait terwujudnya pelayanan jasa bandara yang nyaman dan aman.
Dari sekian banyak topi, soal kesehatan paling penting. Apa itu? Antisipasi masuknya penyakit polio dari Filipina dan pneumonia misterius dari Tiongkok.
Kepala Otban VIII Manado Ir MT Edison Saragih MT menjelaskan, langkah tepat diperlukan guna menghadapi ancaman masuknya penyakit yang di negara asalnya sudah ditetapkan sebagai wabah.
"Langkah mitigasi sudah dilakukan--bahkan sejak tahun lalu--begita edaran dari pusat turun. Nah, tahun ini kita perketat," katanya.
Langkah antisipasi yang dilakukan ialah menempatkan thermal scanner di terminal keberangkatan internasional. Selain itu, pemberian vaksin oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Manado.
"Kepada calon penumpang kami harapkan bisa melakukan vaksinasi mandiri sebelum bepergian ke Filipina maupun Tiongkok," katanya.
Sementara, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Manado, Yohanis Patari menjelaskan, status wabah polio di Filipina sejauh ini belum dicabut. "Arahan pusat sejak tahun lalu, prosedurnya masih sama dan kita perkuat tahun ini," kata Patari usai rakor.
Kantor Kesehatan Bandara Samrat tetap memberikan pelayanan kepada penumpang yang akan ke Filipina dan sebaliknya.
Terkait vaksin, ia bilang memang terbatas.
Tahun lalu, pihaknya dapat bantuan vaksin dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulut dan buffering stock-nya menipis.
Tahun ini, pihaknya mengupayakan ke Kementerian Kesehatan dan itu butuh waktu relatif lama pengadaannya.
"Karena itu kami imbau calon penumpang yang akan ke Filipina agar bisa vaksin sendiri di klinik swasta karena di situ bebas dijual," katanya.
Sebagaimana Surat Edaran Dijen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor 5r.03.04/11/2320/2019 tentang Kewaspadaan dan Respon Terhadap KLB Polio VDPV Tipe 2, penumpang yang akan ke Filipina dan sebaliknya sudah mendapatkan imunisasi Polio minimal 4 minggu terakhir dengan menunjukan International Certificate of Vaccination or Prophylaxis (ICV).
Sementara, untuk unknown Pneumonia yang belum diketahui penyebabnya, Kantor Karantina Kesehatan tetap mengawasi penumpang dari Tiongkok, khususnya Wuhan.
"Unknown Pneumonia karena belum diketahui etiologianya, asalnya dari mana, penyebabnya dan lain-lain," ujar Patari.
Pihaknya juga menelusuri kota-kota yang selama ini memiliki koneksi penerbangan dengan Wuhan. Seluruh penumpang dari Tiongkok wajib diawasi.
Kata Patari, penyakit ini belum ada vaksinnya sehingga butuh kewaspadaan tinggi. Jangan sampai penyakit yang belum diketahui etiologinya ini dinyatakan sebagai penyakit baru di Sulut.
"Itu dampaknya besar. Bisa saja keluar travel warning yang dampaknya ke mana-mana, apalagi sektor pariwisata," jelasnya.
Edison menambahkan, rakor itu juga membahas terkait sarana dan prasarana penunjang pelayanan kepada penumpang penerbangan internasional di Bandara Samrat.
"Sesuai dengan slogan Ditjen Perhubungan Udara, Penerbangan Selamanya, selamat, aman dan nyaman," katanya.
Hadir dalam rakor ini Kepala Dishub Sulut, Dr Lynda Watania, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Manado, Arthur Mawikere serta perwakilan dari stakeholder terkait.
Mulai dari Kantor Bea Cukai, PT Angkasa Pura I, Airnav, Balai Karantina Pertanian, Lanud Sam Ratulangi, Polsek Bandara, BNNP Sulut, BP3TKI Manado, Lion Air, Garuda Indonesia, SilkAir, Gapura Angkasa dan Anggota komite lainnya. (ndo)
• PENGAKUAN Pria Jual Istri Masih Berusia 16 Tahun dan Hamil 4 Bulan untuk Layanan Ranjang Bertiga
Subscribe YouTube Channel Tribun Manado:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/rakor-fasilitasi-bandara-samrat-1.jpg)