OTT KPK

Agar Tidak Muncul Kesalahpahaman, KPK Diminta Memeriksa Sekjen PDIP

Selain Wahyu Setiawan, KPK diminta memeriksa Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Jika hal ini tidak dilakukan, kepercayaan publik bisa luntur.

Agar Tidak Muncul Kesalahpahaman, KPK Diminta Memeriksa Sekjen PDIP
Tribunnews.com
Hasto Kristiyanto 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Selain Wahyu Setiawan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diharuskan memeriksa Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto.

Pasalnya nama Hasto terseret dalam kasus suap mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum, Wahyu Setiawan yang beberapa waktu lamu terkena OTT KPK.

Menurut Suparji Ahmad selaku pakar hukum Universitas Al Azhar, hal ini perlu dilakukan agar tidak memunculkan kesalahpahaman di masyarakat.

"Menurut saya ini belum yang terbaik dari KPK karena dia sudah melakukan OTT dan menetapkan tersangka. Tetapi untuk melanjutkan kasus dengan masuk ke gedung tertentu dan menemui orang tertentu malah tidak bisa," katanya dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/1/2020).

Suparji menyatakan KPK harus menuntaskan penyelidikan pada pihak yang namanya telah terlanjur dikaitkan dengan kasus suap Wahyu Setiawan, khususnya Hasto Kristiyanto dan petinggi PDIP lain.

Kalau tidak, kepercayaan publik yang baru saja muncul pada kepemimpinan baru KPK akan kembali luntur.

Ia menggarisbawahi, kalau berhenti di sini saja orang tidak akan percaya KPK lagi, dan menjadi blunder bagi KPK.

Setelah ini KPK harus secara sungguh-sungguh memanggil orang-orang yang telah disebut terkait dalam kasus tersebut.

"Agar tidak ada fitnah dan sebagai klarifikasi, harus ada pertanggungjawaban dan kepastian hukum. Perlu ada kejelasan terhadap nama yang disebut dalam perkara tersebut," kata Suparji.

Suparji berharap kasus tersebut tidak hanya akan ramai di awal lalu tumpul penyelesaian.

Seperti halnya beberapa kasus yang hingga saat ini masih menggantung, mulai dari BLBI, Century, hingga Pelindo.

"Ini pertarungan besar bagi KPK, karena sudah melangkah, kalau tidak dibongkar akan muncul pertanyaan besar di situ," kata Suparji.(*)

Editor: Isvara Savitri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved