Siswa Bunuh Guru

5 Fakta Sidang Vonis Siswa Bunuh Guru, 2 Pelaku Ingin Jadi Pendeta, Keluarga Korban Teriak Bebaskan

t Fakta-fakta di balik sidang putusan terhadap pembunuh Guru Agama: Pelaku Ingin Jadi Pendeta, Keluarga Korban Teriak Bebaskan.

5 Fakta Sidang Vonis Siswa Bunuh Guru, 2 Pelaku Ingin Jadi Pendeta, Keluarga Korban Teriak Bebaskan
TRIBUNMANADO/ISVARA SAVITRI
Hakim Pengadilan Negeri (PN) Manado menvonis dua siswa pembunuh Guru Agama SMK Ichthus Manado, Alexander Werupangkey pada Senin (2/12/2019). 

"Apapun itu, saya selaku istri korban menghargai putusan majelis hakim karena mereka sudah bekerja secara maksimal dengan mempertimbangkan sistem peradilan anak," ujar Silvia saat ditemui usai sidang.

Ia didampingi tim penasihat hukumnya terlihat tegar meski tidak bisa dipungkiri ia juga kecewa dengan keputusan hakim.

Silvia mengimbau seluruh komponen pemerintah meninjau kembali bahkan melakukan revisi terhadap sistem peradilan anak.

Ia menyarankan sistem ini jangan hanya terpaku pada usia anak, tetapi juga seberapa berat pelanggaran yang dilakukan sang anak.

"Kalau anak sudah melakukan pelanggaran berat seperti pembunuhan berencana, jangan lagi dilindungi oleh batasan usia. Biar ada efek jera," katanya.

Dia mengatakan bahwa sistem peradilan anak perlu ditinjau ulang agar tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

"Umur saja yang masih muda, tapi kelakuan mereka sudah seperti orang dewasa. Sudah tidak pantas dilindungi sistem peradilan anak," jelas Silvia.

Yuddi Robot selaku tim penasihat hukum korban, juga menyarankan agar dilakukan pengklasifikasian pelanggaran anak dalam sistem tersebut.

"Untuk membantu pemerintah melakukan revisi, kami rencananya akan membentuk forum diskusi lintas LSM supaya dilakukan pengklasifikasian hukuman bagi pelaku di bawah umur".

5. Ingin Jadi Pendeta

Kedua tersangka yakni FL (16) dan OU (17), warga Kelurahan Koka Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, bahwa mereka merasa ketakutan saat akan mengikuti sidang putusan.

"Kami takut, takut melihat keluarga korban yang banyak menunggu di luar," ujar keduanya kepada wartawan tribunmanado.co.id.

Dikatakan kedua remaja itu, bahwa ketika bebas nanti, mereka berdua akan sekolah Alkitab.

"Kami akan bertobat dan sekolah Alkitab (sekolah pendeta) menjadi hambah Tuhan," aku keduanya.

Mereka berdua juga, mengaku sangat bersalah karena sudah menghilangkan nyawa guru mereka.

"Kami sudah salah dan kami siap jalani hukuman yang akan kami jalani," ujar mereka

Sebelumnya, kedua terdakwa mengaku wajah guru yang dibunuh mereka sering terbayang.

"Sejak masuk penjara di Polresta Manado, saya sering mimpi aneh. Saat tidur, seperti ada yang menyentuh saya. Tapi saat saya bangun, tidak ada orang disamping saya," ujar FL yang menikam almarhum Alexander Werupangkey (54) di PN Manado pada Selasa (26/11/2019) silam

Lanjutnya, saat terbangun, dirinya langsung berdoa, meminta maaf kepada almarhum lewat doa, setelah itu dirinya membaca Alkitab.

"Sejak masih di tahan di Polresta Manado, saya terus berdoa minta maaf, karena saya sudah salah, sampai sekarang, wajah bapak guru masih terbayang di pikiran saya," akunya dengan waja ketakutan.

Begitu juga pengakuan dari OU, bahwa wajah guru SMK Ichthus Manado yang dipukulnya, pernah terbayang di pikirannya.

"Kami menyesal, memang benar penyesalan di belakang, saya jadi takut, kami berdua sering berdoa bersama, meminta maaf kepada pak guru lewat doa," kata OU.

Diketahui kasus pembunuhan terjadi di halaman komplek SMK Ichthus, Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa (22/10/2019) silam.

Pelaku menusuk korban sebanyak 14 kali

Tak hanya mengalami penusukan, korban juga menerima pengeroyokan oleh FL dan OU.

Korban ditusuk di atas motor saat hendak keluar dari halaman sekolah.

Lalu korban melepaskan motornya dan hendak masuk ke area sekolah.

Namun FL langsung menusuknya dari belakang.

Korban mencoba menghindar dan berlari masuk halaman sekolah.

Korban sempat melakukan perlawanan hingga pisaunya jatuh ke tanah.

Pelaku OU (17) masuk menghampiri FL.

OU ikut memukul dan melakukan pengeroyokan kepada korban setelah mendapat ajakan dar FL.

Saat korban merasa terpojok FL melakukan tikaman sebanyak tiga kali.

FL dan OU meninggalkan korban saat terkapar di tanah.

Pelaku mengaku emosi kepada korban yang merupakan guru di sekolahnya.

Pelaku tidak terima dirinya ditegur oleh Alexander Werupangkey saat merokok. (Aldi Ponge/ Juf/Isvara)  

Penulis: Aldi Ponge
Editor: Aldi Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved