Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kinerja KOMPAS100 Berbeda Kutub

Performa saham anggota indeks KOMPAS100 minus sebanyak 2,77% sejak awal tahun. Performa tersebut tak lepas dari hasil kinerja emiten

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan.co.id
Pergerakan saham di IDX30 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Performa saham anggota indeks KOMPAS100 minus sebanyak 2,77% sejak awal tahun. Performa tersebut tak lepas dari hasil kinerja emiten anggota indeks tersebut selama periode Januari-September 2019.

Tito: Jakarta Seperti Kampung Dibanding Shanghai

Jika ditotal, pendapatan emiten indeks KOMPAS100 selama periode tersebut tercatat Rp 1.664,22 triliun, naik sekitar 5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 1.584,02 triliun. Namun, total laba turun 2,34% menjadi Rp 211,44 triliun.

Jika dibagi per sektor, ada sembilan sektor dalam KOMPAS100. Dari sisi pendapatan, hanya dua sektor yang mengalami penurunan. Namun, dari sisi laba bersih, ada empat sektor yang membukukan penurunan (lihat tabel). "Banyak perusahaan yang performanya tidak sesuai target," ujar Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali, Senin (25/11).

Kondisi global menjadi salah satu faktor penurunan tersebut. Perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China yang berlarut-larut. Setiap ada kabar baik dari AS, China selalu menepisnya.

Imbasnya, harga komoditas bahan baku hingga permintaan terpengaruh. "Semuanya kena, termasuk juga tarif dagang juga," imbuh Frederik.

Belum lagi,  harga komoditas batubara yang belum menguat akibat pergeseran permintaan ke sumber energi bersih. Ini membuat kinerja sektor tambang tumbang.

Wagub Lampung Ngacir Usai Diperiksa KPK

Kondisi dalam negeri tak lebih baik untuk beberapa sektor. Sebut saja, sektor properti. Saat ini, para spekulan properti yang membeli properti kedua, ketiga dan seterusnya hilang.

"Jadi, yang membeli properti sekarang benar-benar end user," terang Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma.

Mereka pun memilih properti dengan harga terjangkau. Hal ini turut mempengaruhi kondisi properti yang nampak belum kembali booming.

Masih menantang

Frederik memprediksi, kondisi tahun depan belum tentu lebih baik. Bahkan, cenderung lebih menantang.

Pasalnya, AS bakal menggelar pemilu tahun depan. Momen ini bakal meningkatkan tensi politik di AS yang akan berimbas pada melambatnya investasi. "Ini karena investor akan lebih wait and see," tambahnya.

Suria mengatakan, sektor yang berhubungan dengan barang konsumsi belum tentu bakal lebih moncer. Prospek positifnya terbatas pada emiten yang memproduksi bahan pokok.

Mimi Halimin, analis Mirae Asset Sekuritas memprediksi, industri semen yang merupakan sektor industri dasar juga belum terlihat positif. "Kami belum melihat ada katalis positif untuk tahun depan," tulisnya dalam riset 21 November.

Belum Lama jadi Komisaris, Ahok Didesak Bantu Pertamina Bayar Ganti Rugi, Terungkap Masalahnya

SMGR memperkirakan pertumbuhan volume produksi secara industri hanya tumbuh 2%-2,5%. Sementara, INTP memprediksi pertumbuhan volume tahun depan antara 3%-4%.

Pembangunan infrastruktur masih menjadi pendorong utama permintaan semen. "Sementara, kami belum melihat hal serupa dari sektor properti," imbuh Mimi.  (Avanty Nurdiana/DH Forddanta/Sanny Cicilia)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved