Berita Bolmong
Peringati Hari Guru Nasional, Kepsek Ini Terkenang Ditawan Gerilyawan, Ditolong Mantan Murid
Sem Wokas, salah satu Kepala Sekolah di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), teringat pada peristiwa mengerikan puluhan tahun silam.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID - Setiap Hari Guru Nasional 25 November, Sem Wokas, salah satu Kepala Sekolah di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), teringat pada peristiwa mengerikan puluhan tahun silam.
Kala itu ia masih mengajar sebagai guru di Timor - Timur (Kini Timor Leste).
Pasca jajak pendapat yang dimenangkan kubu pro kemerdekaan, kerusuhan terjadi.
Baku hantam terjadi antara kubu pro kemerdekaan dan pro integrasi.
Kubu pro integrasi terusir.
Di masa berdarah itu, ia berhasil lolos dari maut setelah diselamatkan mantan muridnya.
Sang mantan murid yang bermarga Gusmao, masih sanak saudara Xanana Gusmao, panglima perang kala itu yang kelak menjadi presiden Timor Leste, adalah salah satu pemimpin pasukan pro kemerdekaan.
Ia bersama sejumlah guru asal Indonesia ditawan pasukan pro kemerdekaan ketika batas waktu keluar dari indonesia sudah lewat.
"Batas waktu keluar dari sana tanggal 30, pamflet pun disebar, namun kami tak dapat pamflet itu hingga selewat tanggal 30 kami masih berada di sana," kata dia.
Dia bercerita, kala itu, Gusmao menodong mereka dengan pistol.
"Pistol itu ditamparkannya ke pipi kiri dan kanan, lain waktu ditusuk ke perut, rasanya sakit sekali," kata dia.
Sumpah serapah keluar dari mulut Gusmao menyusul kemudian ancaman.
"Kalian makan di Timor, berak di Timor, mati juga di Timor," kata dia.
Dia merasa ajalnya sudah dekat.
Pasti mereka semua akan dibunuh.
Sem pasrah.
"Waktu itu saya sudah pasrah, tak mungkin bisa lolos, mungkin inilah ajal kami," kata dia.
Gusmao menginterogasi guru satu persatu.
Setiap guru yang diinterogasi kena tamparan pistol.
Giliran Sem tiba.
Topi di kepalanya dicabut paksa.
Dan Gusmao terkejut.
Pistolnya di tangannya jatuh.
Wajah kejamnya hilang.
Haru terbit.
"Ternyata dia masih kenal saya," kata dia.
Sebut dia, Gusmao dulu sangat bandel.
Ia hampir dikeluarkan.
"Sayalah yang meminta agar ia jangan sampai dikeluarkan dan dia ternyata masih ingat budi gurunya," kata dia.
Sem lantas dilepaskan Gusmao.
Bahkan diantar sampai ke perbatasan.
Di sana pasukan TNI terheran-heran mereka masih hidup.
Bahkan ada yang mencurigai Sem.
"Saya jelaskan semuanya mereka pun mengerti," kata dia.
Pengalaman itu begitu membekas bagi Sem.
Ia kerap teringat peristiwa itu.
Saat pembunuhan guru di Manado, kisah itu terngiang lagi.
Ia sedih.
"Saya teringat lagi peristiwa itu, betapa guru dulunya sangat dihargai muridnya, bahkan milisi bersenjata pun masih ingat gurunya," kata dia.
Memang sebuah ironi.
Penjahat atau pasukan yang membantai manusia layaknya ayam masih ingat jasa gurunya.
Namun seorang siswa nekat membunuh pahlawan tanpa tanda jasa tersebut hanya gara-gara dilarang merokok.
(Tribunmanado.co.id/Arthur Rompis)
BERITA TERPOPULER :
• VIDEO VIRAL Tuyul Ditangkap Warga dan Ditaruh di Dalam Toples, Perhatikan Gayanya
• Ahok Bisa Gagal jadi Komisaris Pertamina, Suara Marman Batubara jadi Penghalang: Mundur Saja
• Mahfud MD Dukung Ahok jadi Komisaris Pertamina Namun Tolak jadi Presiden dan Menteri
TONTON JUGA :