Sains
Resistensi Antimikroba Jadi Bencana Multisektoral, Ini Pengaruhnya Bagi Manusia dan Hewan
AMR berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengobati infeksi serius, dan butuh prosedur medis yang relevan
Padahal antimikroba itu ada untuk mengobati penyakit yang disebabkan organisme mikroba itu, biar membunuh atau menghambat laju pertumbuhan mikroba yang menyerang daya tahan tubuh.
Secara sederhana, dicontohkan oleh Wati, yaitu penyakit TBC di Indonesia yang saat ini menjadi nomor tiga jumlahnya terbanyak di dunia.
"Kenapa itu terjadi? Soalnya mengobati pasien TBC itu susah sekali, mereka banyak yang mengalami resisten (AMR). Kita sudah ada antimikroba, tetapi karena mereka sudah ada resisten antimikroba, makanya mesti nyari lagi harus pakai apa mengobati organisme yang menyerang itu," ujarnya.
Penyebaran resistensi antimikroba ini juga dapat berisiko dialami siapa saja pada usia berapa saja termasuk bayi.
Hal itu bisa terjadi karena ibu yang mengandung memiliki resistensi terhadap antimikroba, jadi meskipun bayi belum diberikan antimikroba atau antibiotik sekalipun.
Jika hal itu terus terjadi dan tidak segera dilakukan penanganan secara optimal secara global, AMR diprediksi akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada tahun 2050, dengan tingkat kematian mencapai 10 juta jiwa per tahun.

Resistensi antimikroba pada hewan
Tidak jauh berbeda dengan manusia, mekanisme antimikroba juga terjadi pada hewan.
Biasanya, hewan terutama ternak saat sedang sakit diberikan antibiotik oleh pemilik ternak, dengan tujuan hewan ternak mereka sehat dan bisa berproduksi dengan baik.
Namun, hal tersebut juga justru membuat hewan ternak seperti unggas (ayam) mengalami resisten terhadap antimikroba.
Jika ayam sakit, pemberian antimikroba tidak akan mempan, dan pelaku peternakan sangat mungkin dapat kehilangan seluruh hewan ternaknya.
Bahayanya lagi, penyakit yang diderita hewan tersebut juga bukan tidak mungkin berpengaruh kepada kesehatan manusia.
Misalnya ketika infeksi yang terjadi pada hewan menyebar ke manusia.
Berikut cara mencegah diri agar terhindar dari resisten antimikroba:
1. Pada manusia