Senin, 13 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sains

Resistensi Antimikroba Jadi Bencana Multisektoral, Ini Pengaruhnya Bagi Manusia dan Hewan

AMR berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengobati infeksi serius, dan butuh prosedur medis yang relevan

Editor: Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID - Resistensi Antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR) bisa berpengaruh kepada manusia dan hewan sekalipun, sehingga dapat digolongkan menjadi bencana multisektoral.

AMR berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengobati infeksi serius, dan butuh prosedur medis yang relevan.

Dokter anak Purnamawati Sujud SpA, mengatakan bahwa resisten terhadap antimikroba dapat menyebabkan kemampuan pulih individu (manusia atau hewan) dari penyakit yang disebabkan oleh mikroba (virus, bakteri, jamur, parasit, protozon) akan sulit dilakukan.

Untuk diketahui, ada dua alasan utama mengapa antimikroba tidak dapat menyembuhkan infeksi.

- Antimikroba bukan pengobatan yang tepat atau telah digunakan secara tidak sesuai.

- Kuman penyebab infeksi telah menjadi resisten terhadap pengobatan, dalam proses yang disebut resistensi antimikroba (AMR).

Setiap kali kita menggunakan antimikroba seperti antibiotik untuk mengobati infeksi pada manusia, hewan dan tanaman, kuman-kuman ini memiliki kesempatan untuk menjadi kebal terhadap pengobatan tersebut.

Akibatnya, antimikroba semakin tidak efektif seiring berjalannya waktu.

AMR telah menyebabkan kegagalan pada pengobatan.

Tanpa antimikroba yang efektif, akan lebih banyak lagi manusia, hewan dan tanaman yang berisiko mati karena infeksi.

Ilustrasi obat-obatan
Ilustrasi obat-obatan(theevening)

Resisten antimikroba pada manusia

dr Wati menjelaskan bahwa saat ini dunia sudah mengalami kembali fase pre-antibiotik.

Maksudnya adalah zaman dimana antibiotik belum ditemukan.

Hal itu menurutnya karena tingkat morbidity (kesakitan) yang disebabkan oleh mikroba, dan tak dapat diobati bahkan cenderung meningkat per tahun yaitu sekitar 700 ribu orang.

"Masanya kita saat ini sudah berubah, kita seperti diplantingkan kembali pada masa sebelum antibiotik ditemukan," kata Wati dalam acara pekan kesadaran antibiotik sedunia 2019 di Lampung, Kamis (21/11/2019).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved