Kamis, 16 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Bolmong

Siang Sekolah, Malam Tenteng Samurai: Kami Ingin Semuanya Kembali Damai Seperti Dulu

Kami ingin semua ini diakhiri. Anak anak kami juga ingin sekolah. Sebelumnya tak ada anak yang kenal samurai

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
TRIBUN MANADO/ARTHUR ROMPIS
Polres Fasilitasi Perdamaian Dumoga dan Tambun beberapa waktu lalu 

TRIBUNMANADO.CO.ID - "Kalau mau jalan ke atas, bawa samurai nak".

Begitu pesan seorang orang tua warga Desa Dumoga kepada anaknya yang masih berusia 13 tahun, seperti dituturkan seorang warga Desa Dumoga kepada Tribun Manado, Selasa (18/11/2019) siang di rumah makan di pertigaan desa tersebut.

Seorang temannya menuturkan cerita lain yang tak kalah ngeri. "Seorang anak kecil disuruh ayahnya membawa panah wayer.

Ia memikul panah wayer berukuran besar itu. Sungguh lucu," kata dia sambil tertawa.

Terlibatnya remaja belasan tahun hingga anak - anak adalah fakta menyedihkan di balik tarkam Desa Pinonobatuan (Tambun) versus Dumoga yang sudah berlangsung dua bulan lamanya.

Tarkam Dumoga, Analisa Kapolres : Pemahaman Hukum Warga Masih Kurang

Penelusuran Tribun Manado, sejumpah petarung garis depan dua desa tersebut adalah para remaja belasan tahun.

Ironisnya, beberapa di antara mereka, seperti cerita di atas, disuruh maju oleh orang tua mereka.

Menenteng samurai dan panah wayer, mereka maju demi membela kampung dari serbuan warga kampung sebelah.

Iwan Fals Sebut Ahok Luar Biasa, Baru Diusulkan Jadi Pimpinan BUMN Saja Sudah Geger

"Mereka pasukan garis depan. Biasanya mereka maju dulu, baru kemudian tua - tua," ujar seorang warga yang mengaku bernama Aba.

Kadang para remaja tanggung ini terpancing emosi. Mereka menyerang lawan hingga lewat perbatasan.

"Padahal tua - tua di sini larang menyerang. Kami diminta bertahan. Ada garisnya," katanya.

Dikatakannya, para remaja ini kadang bertarung hingga subuh.

Ahok Disebut Pimpin Pertamina atau PLN, Politisi Gerindra Malah Tantang Jadi Dirut Krakatau Steel

Esoknya mereka tetap bersekolah. "Meski dengan badan lemas karena tidak tidur," kata dia.

Hanya di sekolah mereka beroleh ketentraman.

Sepulang sekolah suasana perang kembali dialami mereka.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved