Minggu, 19 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

News

Fakta Menarik Polemik Hubungan Garuda Indonesia-Sriwijaya Air Putus Nyambung

Pasang surut hubungan antara PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dengan Sriwijaya Air akhirnya kembali retak setelah sempat rujuk.

Editor: Chintya Rantung
Tribun / Maskartini
Fakta Menarik Polemik Hubungan Garuda Imdonesia-Sriwijaya Air Putus Nyambung 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pasang surut hubungan antara PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dengan Sriwijaya Air akhirnya kembali retak setelah sempat rujuk.

Pasang surut hubungan kedua maskapai tersebut telah terjadi sejak 2018 lalu.

Namun, kondisi terkini pada Kamis (7/11/2019), pihak Garuda Indonesia mengumumkan bahwa kerja sama mereka dengan Sriwijaya kembali memanas. Dengan dalih hanya menjalin kerja sama business to business (b to b) saja.

Bahkan, manajemen Garuda Indonesia meminta kepada Sriwijaya agar segera melunasi utang-utang mereka kepada PT Pertamina (Persero) Tbk, PT GMF AeroAsia, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan sejumlah perusahaan yang memberikan modal pinjaman.

Dirangkum dari pemberitaan Kompas.com, berikut sejumlah fakta pasang surut Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air.

1. Awal Kisruh, Wanprestasi hingga Terdepaknya Jajaran Garuda

Kisruh bermula dari maskapai penerbangan berbiaya hemat (low cost carrier/LCC) PT Citilink Indonesia melayangkan gugatan kepada Sriwijaya Air Group yang terdiri atas PT Sriwijaya Air dan PT NAM Air.

Gugatan tersebut dilayangkan karena Sriwijaya Air diduga wanprestasi alias tidak menepati perjanjian kerja sama bisnis pada 29 September 2019. Padahal Garuda Indonesia Group dengan Sriwijaya Air pada akhir 2018 menjalin kerja sama.

Kerja sama itu dilakukan untuk membantu Sriwijaya melunasi utang ke beberapa perusahaan BUMN, di antaranya ke anak perusahaan Garuda PT GMF AeroAsia, PT Pertamina (Persero), dan PT Angkasa Pura I dan II.

Namun, di tengah jalan Sriwijaya Air diduga melakukan wanprestasi. Karena hal tersebut Garuda Indonesia melalui anak perusahaannya PT Citilink Indonesia melayangkan gugatan ke Sriwijaya Air Group di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Permasalahan lainnya, saat dewan komisaris Sriwijaya Air melakukan perombakan direksi. Tak tanggung-tanggung, dewan komisaris Sriwijaya “mendepak” orang-orang Garuda Indonesia dari jajaran direksi maskapai tersebut.

Josep Adrian Saul dicopot dari jabatan Direktur Utama Sriwijaya Air. Lalu, Harkandri M Dahler selaku Direktur Human Capital and Service Sriwijaya Air dan Joseph K Tendean selaku Direktur Komersial Sriwijaya Air juga ikut dicopot.

Ketiga orang yang dicopot itu merupakan pejabat di maskapai Garuda Indonesia yang ditugaskan untuk mengelola Sriwijaya.

2. Rujuk Usai Kisruh

Sriwijaya Air resmi rujuk dengan Garuda Indonesia Group pada 1 Oktober 2019. Hal ini terjadi setelah menyepakati komitmen bersama untuk terus melanjutkan kerja sama manajemen (KSM) dengan pemegang saham Sriwijaya Air Group.

Adapun kesepakatan keberlanjutan KSM tersebut sejalan dengan pertemuan antara Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group yang difasilitasi oleh Menteri BUMN RI Rini Soemarno beberapa waktu lalu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved