Jumat, 17 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulut ‘Impor’ Cabai dari Surabaya: Begini Penjelasan Gubernur Olly

Rica (cabai) dan tomat telah mendorong inflasi bulanan pada Oktober 2019 di Sulawesi Utara.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUN MANADO/AJI SASONGKO
Harga Cabai Masih di Kisaran Rp 120 Ribu per Kilogram, Pedagang Enggan Ambil Stok dari Surabaya 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Rica (cabai) dan tomat telah mendorong inflasi bulanan pada Oktober 2019 di Sulawesi Utara. Sulut yang diwakilkan Kota Manado mencatatkan inflasi 1,22 persen (perbandingan bulan) dan inflasi tahun kalender sebesar 2,13 persen dan inflasi “year on year” sebesar 4,81 persen.

Garuda Muda Siap Tempur: Timor Leste Waspadai Bagus

Gubernur Sulut Olly Dondokambey mengatakan, soal kenaikan harga cabai memang kerap terjadi di waktu tertentu. Sesuai hukum ekonomi kalau permintaan banyak tapi penawaran sedikit maka harga naik. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tak berdiam diri. Ada kebijakan mengintervensi pasar.

Agar pasokan cabai terjaga di pasar, biasanya cabai dari Surabaya dipasok ke Sulut. "Misalnya cabai naik, saya telepon ke Surabaya bawa masuk kemari cabai ke Sulut," kata dia. Atas upaya menjaga inflasi di angka 3 persen, TPID Sulut mendapat penghargaan.

Ia mengatakan, harga melonjak tinggi, biasanya ada tangan yang coba mainkan pasokan. Cari untung wajar tapi jangan memanfaatkan situasi kemudian menyulitkan masyarakat. Ia mengimbau kepada pedagang-pedagang mari jaga keterjangkauan harga dan kelancaran pasokan.
Dalam TPID juga ada aparat kepolisian yang siap menindaki jika ditemui upaya mempermainkan pasokan dan harga.

Harga rica masih pedas! Di Pasar Pinasungkulan-Karombasan, Kota Manado, cabai yang sempat tembus Rp 140 ribu per kilogram mulai turun Rp 20 ribu per kilo. Harga beberapa kebutuhan pokok ikut-ikutan naik jelang perayaan Natal. Seperti gula putih, tepung ketan hingga kacang-kacangan.

“Harga cabai di Pasar Karombasan masih di kisaran di Rp 120 ribu per kilo.
Cabai yang dimaksud adalah berasal dari Gorontalo,” kata Sendi (33), pedagang asal Gorontalo kepada tribunmanado.co.id, Selasa (5/11/2019).

Kata dia, dibandingkan beberapa minggu lalu, harga cabai ini malah turun.
Menurutnya, cabai asal Gorontalo pernah mencapai harga Rp 150 ribu per kilo. "Meski begitu, cabai di sini masih banyak dicari. Cabai jualan saya kemarin habis pukul 18.00 Wita," katanya.

Orangtua Bekerja, Bayi Kembar Siam Dijaga Nenek

Sendi mengeluhkan biaya untuk mendapatkan stok cabai terbilang masih tinggi. "Kadang-kadang saya ambil dari luar Sulawesi, seperti Surabaya. Tapi banyak komplain dari pelanggan," katanya.

Menurut Aris (34), rekan Sendi, pelanggan sering bilang jika cabai dari luar Sulawesi pahit. "Katanya banyak bijinya. Selain itu juga saya tidak bisa memantau apakah cabai itu masih bagus atau tidak. Meskipun harganya lebih murah. Sekira Rp 80 ribu perkilo" katanya. Aris dan Sendi enggan untuk mengambil stok lain dari luar Sulawesi.

Masih dari Pasar Karombasan, harga sayuran relatif stabil. Begitulah penuturan Ida (45), pedagang sayur asal Gorontalo. Wortel masih di kisaran harga Rp 10 ribu perkilo dan sawi hijau Rp 4 ribu satu ikat. Kol ia hargai Rp 5 ribu perkilo dan labu sayur Rp 4 ribu per buah. "Hanya selada yang harganya naik. Dulu harganya Rp 5 ribu sekarang menjadi Rp 10 ribu per pohon," katanya.

Sebagian besar sayur Ida ambil berasal dari Modoinding, Minahasa Selatan. Meski harga stabil, Ida mengaku, hari Senin tidak terlalu banyak pembeli yang datang ke kiosnya. "Kalau mau habis biasanya musti jual dalam dua hari. Kalau satu hari tidak mungkin habis," katanya.

Tambahnya, sekarang ini banyak supermarket yang juga jualan sayur. Jadi ia merasa ada saingan bisnis. "Banyak pelanggan yang masih suka beli sayur di supermarket dibandingkan dengan pasar tradisional," sebutnya.

Dia mengatakan, kiosnya akan ramai pembeli saat Sabtu dan Minggu atau hari libur lain. "Kalau hari libur saya bisa berjualan sampai sore. Tapi kalau sepi seperti ini, habis (atau) tidak habis pokoknya saya pulang pukul 12 siang," ujar dia.

Sedangkan harga ikan cakalang asap di pasar yang berlokasi di Wanea, Manado ini sempat turun sekira tiga sampai empat hari yang lalu kemudian naik lagi. Begitulah kata Dewi (36), pedagang asal Gorontalo. "Mungkin karena sedang bulan terang," katanya.

Menurutnya, saat bulan terang (dekati purnama), ikan lebih susah ditangkap. Ikan lebih jeli melihat jaring atau perangkap yang dipasang nelayan. Cakalang di kiosnya dijual berdasarkan ukuran. "Kalau cakalang ukuran kecil ini Rp 20 ribu per ekor. Sebelumnya saya jual Rp 15 ribu per ekor," kata Dewi.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved