Pertumbuhan Kredit Landai Menjelang Akhir Tahun

Pertumbuhan kredit yang landai menjelang akhir tahun menyebabkan perbankan lebih memilih menempatkan dana

Pertumbuhan Kredit Landai Menjelang Akhir Tahun
Kolase Tribun Manado/Internet/Capture Facebook
Ilustrasi OJK dan Capture Facebook Program Berbagi Berkah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pertumbuhan kredit yang landai menjelang akhir tahun menyebabkan perbankan lebih memilih menempatkan dana pada surat berharga. Hingga Agustus 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat simpanan bank di surat berharga mencapai Rp 1.054,18 trilun dengan pertumbuhan 6,8% secara year on year (yoy).

Bank Central Asia Jaring Penawaran Investor di Atas Rp 1 Triliun

Instrumen obligasi menjadi pilihan utama bank menyimpan dana. Per Agustus  2019, nilai simpanan bank di obligasi mencapai Rp 738,96 triliun, tumbuh 13% secara yoy. Angka pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada Agustus 2019 yang sebesar 8,7% yoy.

Sejumlah bankir mengaku mulai meningkatkan simpanan di surat berharga, khususnya obligasi pemerintah. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, mencatat hingga 21 Oktober 2019, kepemilikan perbankan di obligasi pemerintah telah mencapai Rp 669,90 triliun, atau setara 25,05% dari total nilai obligasi pemerintah yang beredar.

“Hingga Juni 2019, penempatan dana BCA di obligasi pemerintah tumbuh 82% yoy, sedangkan untuk surat berharga lainnya tumbuh 7% yoy,” kata Sekretaris Perusahaan Bank Central Asia (BCA) Raymon Winarto, Selasa (22/10).

Dalam periode serupa, Raymon bilang BCA telah memarkirkan dana hingga Rp 88,1 triliun di surat berharga. Dari nilai tersebut sebanyak 73% disimpan melalui obligasi pemerintah, sedang sisa 27% disimpan di surat berharga lainnya.

Opsi menyimpan dana di surat berharga hingga akhir tahun juga masih akan diperhitungkan. Sebab sebelumnya, Presiden Direktur BCA Jahja Setiatamadja, mengaku, menjelang akhir tahun permintaan kredit di BCA memang melandai.

Jahja juga memprediksi hingga akhir tahun 2019 paling optimal BCA bisa meraih pertumbuhan kredit antara 8%-9%. Padahal pada awal tahun lalu, BCA menargetkan bisa meraih pertumbuhan kredit antara 10%-11%.

Wahyu Cium Tangan Megawati: Prabowo Dua Kali Berbisik ke Trenggono

Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI), Haru Koesmahargyo, juga mengakui, pertumbuhan simpanan BRI di surat berharga tumbuh signifikan hingga Agustus 2019. Meski demikian, Haru  menjelaskan, strategi ini tak akan menjadi yang utama dalam  mendorong pendapatan bank.

Penyaluran kredit, khususnya di segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masih andalan BRI memacu bisnis. 

“Sampai Agustus 2019 penempatan dana BRI di surat berharga telah mencapai Rp 166 triliun yang didominasi oleh obligasi pemerintah dengan pertumbuhan 14% yoy. Meski demikian kami masih akan fokus mengejar target pertumbuhan kredit di kisaran 10%-12%,” kata Haru kepada KONTAN, Selasa (22/10).

Sementara Direktur Tresuri dan Internasional Bank Negara Indonesia BNI, Bob Tyasika Ananta justru menjelaskan, pihaknya mulai mengurangi penempatan dana di surat berharga. Alasannya penyaluran  kredit Bank BNI hingga September 2019 terhitung tinggi, tumbuh 14,4% yoy. 

Peningkatan NPL dan Likuiditas Ketat Bebani Bank

"Sementara penempatan dana di surat berharga ada di kisaran Rp 80 triliun hingga Rp 90 triliun,  relatif lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” kata Bob. (Anggar Septiadi)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved