Peningkatan NPL dan Likuiditas Ketat Bebani Bank
Mengantisipasi risiko perlambatan kondisi makro ekonomi ke depan, perbankan menyiapkan pencadangan lebih besar
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Mengantisipasi risiko perlambatan kondisi makro ekonomi ke depan, perbankan menyiapkan pencadangan lebih besar pada kuartal III-2019. Efeknya, laba bersih menjadi tertekan.
Tengok saja, kinerja dua bank besar milik BUMN yang baru saja merilis laporan keuangan kuartal III-2019, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
• Wahyu Cium Tangan Megawati: Prabowo Dua Kali Berbisik ke Trenggono
Keduanya hanya mencetak pertumbuhan laba di kisaran 5% secara year on year (yoy). Faktor lain yang membebani bank adalah ketatnya likuiditas bank. Mau tidak mau, bank sulit menurunkan suku bunga kredit. Di sisi lain, biaya dana meningka.
BRI misalnya mencatat pertumbuhan laba 5,36% yoy menjadi Rp 24,8 triliun di kuartal III-2019. Lebih rendah dibandingkan laba pada Juni 2019 yang tumbuh 8,19% yoy menjadi Rp 16,16 triliun.
Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, pertumbuhan laba BRI lantaran meningkatnya pencadangan akibat membengkaknya rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL).
NPL gross BRI secara konsolidasi meningkat dari 2,54% di kuartal III 2018 menjadi 3,08% di kuartal III-2019. Sedangkan secara bank only, NPL juga meningkat dari 2,46% di kuartal III-2018 menjadi 2,94% di kuartal III 2019.
Segmen korporasi menjadi penyebab utama bengkaknya rasio NPL BRI. NPL di sektor ini naik tajam hingga 10,46% di kuartal III-2019 dibanding periode sebelumnya sebesar 5,80%. "Dua sektor industri yang jadi penopang besar NPL di segmen korporasi dari industri semen dan tekstil," ujar Sunarso, Kamis (24/10).
• Siswa Peserta UNBK SMP Bersiap Simulasi November
BRI sudah membentuk pencadangan hingga 100% di industri semen dan tekstil. Asal tahu saja, bank dengan aset paling jumbo di Tanah Air ini menjadi salah satu kreditur Duniatex Group yang saat ini tengah merestrukturisasi utang. BRI juga menjadi kreditur di PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang juga merestrukturisasi utang. "KRAS meskipun sudah ada kesepakatan restrukturisasi, kami juga sudah membentuk pencadangan hingga 60%,” kata Sunarso.
Bunga turun
Bank BNI juga menaikkan rasio pencadangan pada kuartal III-2019 meskipun rasio NPL BNI membaik. BNI memupuk pencadangan Rp 15,07 triliun pada kuartal III tahun 2019 atau dengan rasio pencadangan sebesar 159,2 % atas NPL sebesar Rp 9,46 triliun.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pencadangan di kuartal III tahun 2018 yang sebesar Rp 14,06 triliun atas NPL sebesar Rp 9,19 triliun atau dengan rasio 152,9%.
Pencadangan Bank BNI salah satunya untuk penyaluran kredit ke Duniatex Group. Bank ini memiliki eksposur kredit senilai Rp 459 miliar kepada Duniatex Group yang terdiri dari utang kredit bilateral Rp 158 miliar dan utang sindikasi Rp 301 miliar.
Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma memandang, penurunan laba kedua perusahaan tersebut memiliki dua penyebab yakni efek pengetatan likuiditas dan peningkatan NPL.
• Viral Polisi Beri Makan dan Cuci Muka ODGJ saat Operasi Zebra, Berikut Kronologinya
Meski begitu, Suria memproyeksi, perbankan masih bisa mencatatkan laba bersih tinggi di akhir tahun. Apalagi sudah ada sinyal positif dari Bank Indonesia (BI) yang baru saja menurunkan BRI7DRRR menjadi 5% dari 5,25%. Pun, beberapa ekonom memproyeksi BI bakal kembali menurunkan suku bunga acuan di November atau Desember 2019. "Tahun lalu itu BI7DRRR turun 175 basis poin (bps) sekarang baru 100 bps, jadi kemungkinan besar masih bisa turun lagi," ujar Suria.
Penurunan bunga acuan akan memberikan angin segar bagi industri perbankan lantaran kemampuan bank untuk mengurangi biaya bunga menjadi lebih kuat sekaligus mampu meningkatkan net interest margin (NIM) yang belakangan kian seret. Meski begitu kewajiban aturan PSAK 71 juga tetap menghantui kinerja bank di akhir tahun. (Anggar Septiadi/Dina Mirayanti/Marshall S)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/rupiah_6.jpg)