Perdagangan Orang
Agen Pengantin Pesanan Indonesia Terindikasi dari 2 Provinsi di Cina
Fenomena pengantin pesanan Cina terindikasi perdagangan orang sudah berkembang menjadi bisnis yang melibatkan aktor intelektual dan agen-agen penyalur
TRIBUNMANADO.CO.ID - Dua provinsi di Cina diduga kuat menjadi lokasi para agen penyalur pengantin pesanan asal Indonesia.
Kedua provinsi tersebut adalah Henan dan Hebei.
Mengutip warta Voice of America, Senin (14/10/2019), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing kini tengah memantau dua provinsi tersebut.
"Di Cina itu ada yang kita catat, di Provinsi Henan dan Provinsi Hebei. Itu memang karena jumlah populasi memang banyak di sana (Henan dan Hebei). Jadi memang mereka mencari pengantin untuk menikah,” papar Fungsi Protokoler dan Kekonsuleran KBRI Beijing Ichsan Firdaus.
Ichsan mengakui dalam beberapa kasus pengantin pesanan sudah ada agen penyalur dari Cina yang sudah ditahan.
Tapi dia mengingatkan memang butuh pendekatan terus menerus agar pihak berwenang di Cina mau memahami.
Setelah pendekatan terus menerus dengan pihak berwenang di Provinsi Hebei, sekarang kalau warga Indonesia ingin memperpanjang visa tinggal, disuruh ke KBRI Beijing. Atau kalau ada yang mau menikah baru, juga disuruh ke KBRI.
Wakil Duta Besar Indonesia untuk Cina Listyowati menjelaskan, KBRI di Beijing sudah mengambil langkah-langkah dengan mendekati pihak-pihak berwenang di Cina untuk membantu penyelesaian masalah warga negara Indonesia yang menjadi korban pengantin pesanan.
Tahun ini, kata Listyowati, terdapat 42 warga Indonesia yang menjadi korban pengantin pesanan.
Namun tidak semua perempuan Indonesia itu berada di tempat penampungan, sebagian masih berada di kediaman suami mereka.
• Jadi Target Kawin Kontrak, Gadis Ini Jadi Pesanan Pria Tiongkok Bertarif Rp 400-800 Juta
• Modus Pengantin Pesanan, 29 WNI jadi Korban Perdagangan Manusia, Begini Penjelasan Polisi
Menurut Listyowati, sekarang sudah tidak ada lagi korban pengantin pesanan yang tinggal di tempat penampungan.
Untuk mengatasi korban pengantin pesanan, ia menambahkan, pemerintah Indonesia pada berbagai level melakukan pendekatan dengan pemerintah Cina, termasuk Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Beragam pendekatan tersebut untuk menyamakan persepsi antara Indonesia dan Cina mengenai fenomena pengantin pesanan yang terindikasi perdagangan orang.
Hingga akhirnya pihak Cina memahami apa yang menjadi kekhawatiran Indonesia dan masalah 42 perempuan Indonesia yang menjadi korban pengantin pesanan Cina sudah tertangani.
Meski begitu, dia memperingatkan persoalan pengantin pesanan ini belum rampung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/perdagangan-manusia-atau-human-trafficking-ilustrasi.jpg)