Provinsi Kalbar Paling Cepat Tangani Karhutla: Ini Rahasianya
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, kini bisa bernafas lega. Beberapa titik api (hot spot) kebakaran hutan dan lahan
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, kini bisa bernafas lega. Beberapa titik api (hot spot) kebakaran hutan dan lahan yang ada di beberapa provinsi, kini sudah mulai berkurang. Bahkan di beberapa provinsi disebut sudah tidak ada lagi.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi agenda tahunan memang menjadi tanggungjawabnya bersama instansi lainnya. Berikut petikan wawancara eksklusif reporter Tribun Network, Rahmat Hidayat, dengan Menteri Siti Nurbaya, Sabtu (5/10) lalu.
Baca: ASN Kabupaten Ini Diminta Harus Paham Menggunakan Medsos
Beberapa waktu belakangan karhutla menjadi perhatian publik di tanah air, bahkan pemerintah negara tetangga. Bagaimana Anda merespon peristiwa yang selalu terjadi tiap tahun itu?
Sebanyak 251 ribu personel dari TNI dan Polri ikut menangani kebakaran hutan. Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada TNI dan Polri.
Menjaga dan mencegah kebakaran hutan memang harus melibatkan TNI dan Polri. Di era pemerintahan Pak Jokowi, pembenahan dilakukan tidak hanya saat terjadi kebakaran,akan tetapi mencegah agar kebakaran tidak terjadi.
Seperti apa misalnya?
Di zaman Pak Jokowi, sistem penanganannya yang dibenahi. Faktor penyebab hutan terbakar selain human error juga karena faktor alam.
Di tempat tempat tertentu, misalnya pohon cemara atau pohon yang ada bulunya, atau yang lancip, kemudian bergesek dan kena panas, jadi api. Itu memicu terjadinya kebakaran. Iklim bisa jadi penyebab terjadi kebakaran hutan.
Baca: Sehat atau Tidak? Tim KKS Mendagri Turun Periksa Beberapa Titik di Kota Ini
Paradigmanya diubah, yaitu bagaimana mencegah kebakaran hutan. Kalau dulu penanganan dilakukan saat kebakaran terjadi. November 2014 saya masuk (kabinet), saya bilang ke Pak Jokowi, mengapa ketika terjadi kebakaran baru ribut-tibut.
Saya usul agar kita siaga tanpa harus menunggu kebakaran. Ternyata beliau setuju. Karena menurut undang-undang, menangani bencana itu satu di antaranya melakukan kesiagaan.
Terus memonitor daerah-daerah yang rawan kebakaran hutan atau yang kerap memunculkan titik api (hotspot). Di bulan Maret sudah harus waspada termasuk di Juli.
Agustus dan September menjadi waktu yang kewaspadaannya harus ditingkatkan dalam mencegah kebakaran hutan. Melihat hotspot juga harus melihat kualitas udara dan menyertakan tentara.
Provinsi mana yang paling cepat tangani kebakaran hutan?
Kalimantan Barat menangani kebakaran hutannya cepat. Kalau Riau agak beda, karena tergantung karakter gubernurnya juga.
Kalbar itu mengapa bisa cepat karena gubernurnya pernah wali kota dua periode dan orangnya keras. Langsung mengerti, begitu kebakaran terjadi, langsung diterapkan penegakan hukum.
Sebanyak 26 perusahaan langsung disikat dan minta bantuan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Pada 6 September api sudah mulai kritis, paling kenceng 13 September, 22 September turun.
Kalau di Provinsi Riau bagaimana?
Mengapa (penganganan) di Riau beda. Kalau nggak salah bupatinya main sendiri-sendiri, masing-masing punya cara sendiri-sendiri dan kebetulan gubernurnya juga baru.
Sedang di Kalteng, sempat mendebarkan juga soal kebakaran hutan. Gubernurnya kemudian saya telepon, mengaku kesulitan.
Kemudian saya minta bantuan PLN dan Pertamina ikut bantu tangani kebakaran, melakukan pemadaman. Pemda Kalsel juga ikut bantu. Karena di Kalimantan Tengah, kebakarannya terjadi di pinggir jalan.
Bagaimana Provinsi Sumatera Selatan?
Masih saya pantau sampai sekarang. Masalahnya (kebakaran hutan) soal lahan gambut juga. Setiap kejadian kritis, saya pasti berkomunikasi dengan Presiden Jokowi.
Nah kemarin, saya lapor Pak sudah tidak (ada kebakaran) lagi. Beliau bilang, iya sudah hujan juga. Namun yang jelas, Sumatera Selatan harus diawasi terus, sampai sekarang.
Berapa total areal hutan yang terbakar tahun ini?
Sekira 328 ribu hektare. Sebanyak 108 ribu hektare ada di NTT. Di NTT yang terbakar bukan hutan, tapi rumput. Saya masih minta cek sampai September, kemungkinan bisa 500 ribuan hektare (yang terbakar). Sekarang, jauh lebih kecil.
Baca: 7 Desa di Kabupaten Ini Dikategorikan Desa Sadar BPJS Ketenagakerjaan
Tahun 2015, sekitar 2,6 juta hektare hutan yang terbakar. Saya sampai dipanggil pulang sama Pak Jakowi dari Norwegia. Saya persingkat perjalanan.
Di tahun sebelumnya, 2013, hutan yang terbakar ketika itu mencapai 6 juta hektare.
Tahun 1997 berdasar penelitian, hutan yang terbakar sampai 17 juta hektare.
Tapi, dulu tidak heboh beritanya. Karena di zaman kita sekarang ini ada medsos yang kemudian menjadi heboh.
Polri sudah banyak mempersangkakan mereka --baik perorangan maupun korporasi-- sebagai pelaku pembakaran hutan. Pendapat Anda?
Dari polisi, memang yang paling banyak masyarakat karena tertangkap saat ada patroli polisi. Nah, memang orang-orang itu ketika dibawa ke polres, ditanya mengaku ada yang suruh.
Siapa yang nyuruh, ada yang kemudian ditangkap namu ada juga tidak tertangkap. Polisi sekarang jago juga, kepala daerahnya juga dipanggil. Ditanya mengapa tidak bisa menjaga hutan dan lahan, mengapa sampai terjadi kebakaran.
Anda pernah mendapat protes langsung dari negara tetangga karena karhutla?
Tidak pernah. Paling kritis, asap lintas negara terjadi pada 13 September lalu. Saya terus koordinasi dengan para gubernur, saya telepon satu persatu.
Saya kasih tahu, kalau salah saya bilangin. Saya lihat, semua gubernur (yang hutannya terbakar) sangat hati-hati, karena publik saat ini sangat kritis. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/warga-menggunakan-masker-2365236236.jpg)