Dua Pelajar Korban Human Trafficking, Jadi Pelayan di Kafe, Dibayar Jika Bir Laku Terjual

Dari hasil interogasi, kedua korban mengakui awalnya diberi uang Rp 300.000 oleh HB untuk bekerja di kafe.

Dua Pelajar Korban Human Trafficking, Jadi Pelayan di Kafe, Dibayar Jika Bir Laku Terjual
Odyssey
perdagangan manusia atau human trafficking ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Human Trafficking (perdagangan manusia) terus terjadi. Kali ini dua remaja yang masih berstatus pelajar SMA di Makassar menjadi korban perdagangan manusia setelah dipekerjakan di salah satu kafe esek-esek yang berada di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Indratmoko mengatakan, kedua pelajar berinisial NA (17) dan WA (17) itu mengaku dipekerjakan oleh seorang wanita yang bernama HB (23).

"Kedua korban dan pelaku diamankan di kafe di daerah perbatasan Parepare dan Sidrap di daerah Pa'de, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, setelah kita berkoordinasi dengan Polres Parepare, Minggu, 6 Oktober," kata Indratmoko saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (8/10/2019).

Indratmoko mengungkapkan, kedua korban telah meninggalkan rumah sejak 29 Agustus. Saat itu NA mengaku kepada orangtua untuk pergi ke rumah kerabat di Kabupaten Sinjai.

Namun, orangtua NA mendapati kabar bahwa anak gadisnya itu tidak berada di sana. Hingga pada akhirnya ia mengetahui anaknya berada di pedalaman Parepare setelah melihat fotonya di media sosial Facebook. Tepat tanggal 4 Oktober, orangtua NA melaporkan hilangnya NA ke Polrestabes Makassar.

"Dari sinilah tim kami (PPA) bersama tim P2TP2A Kota Makassar bekerja sama pihak Polres Parepare melakukan penyelidikan hingga mengungkap kasus ini kesana," ujar Indratmoko.

Dari hasil interogasi, kedua korban mengakui awalnya diberi uang Rp 300.000 oleh HB untuk bekerja di kafe.

Dari tiga pekan kerjanya itu, keduanya kemudian digaji per tutup botol minuman bir yang laku. Setiap botol bir yang laku masing-masing mendapatkan upah Rp 10.000, sedangkan untuk setiap botol minuman ballo, kedua pelajar diupah Rp 5.000.

"Selama bekerja, diduga ada ancaman fisik dan verbal dari pelaku. Keduanya kurang lebih hampir sebulan bekerja di kafe yang boleh dibilang kafe remang-remanglah. Di kafe itu ada bosnya lagi namanya Bunda Eva. (Korban) jadi pelayan sama nemenin tamu yang mau minum minuman keras (miras)," ujar Indratmoko. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bukannya Sekolah, 2 Pelajar Ini Jadi Pelayan di Kafe, Dibayar Per Botol Bir yang Laku", https://regional.kompas.com/read/2019/10/08/13084241/bukannya-sekolah-2-pelajar-ini-jadi-pelayan-di-kafe-dibayar-per-botol-bir

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved