Indeks Small-Mid Cap Berjaya: Lebih Moncer Dibanding IHSG

Indeks IDX Small-Mid Cap (SMC) Composite menjadi salah satu indeks dengan imbal hasil atawa return positif. Padahal, mayoritas indeks

Indeks Small-Mid Cap Berjaya: Lebih Moncer Dibanding IHSG
kontan.co.id
IDX Small-Mid Cap 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks IDX Small-Mid Cap (SMC) Composite menjadi salah satu indeks dengan imbal hasil atawa return positif. Padahal, mayoritas indeks konstituen lainnya di bursa saham memberikan return negatif seiring dengan tren penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Baca: Kredit Properti Masih Belum Bisa Ngegas

Indeks yang yang mengukur performa harga dari saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah itu naik 3,40% sejak awal tahun. Meski bukan yang terbesar, namun kenaikan ini jauh lebih baik ketimbang IHSG yang sejak awal tahun justru memberikan return 2,15%.

Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas Indonesia menjelaskan, umumnya investor asing menyimpan portofolionya di saham big caps karena lebih likuid. Ketika terjadi gejolak global seperti sekarang ini, mereka menarik dananya dari saham-saham tersebut untuk mengurangi risiko.

Sehingga, ketika terjadi outflow, saham big caps yang terkena imbasnya lebih dahulu. "Sedangkan saham dengan kapitalisasi yang lebih kecil dan menengah tidak terlalu sensitif dengan hal tersebut," ujar Frederik, Jumat (4/10).

Baca: Sudah Naik Tinggi, Saham POLL Masih Bisa Gaspol

Bukan alternatif

Salah satu alasan asing menyukai big caps karena likuiditasnya yang tinggi. Tak semua saham angggota SMC memiliki karakteristik ini.

Sehingga, tingginya return saham SMC bukan berarti kebal dengan kondisi saat ini. "Bukan kebal, hanya karena kurang likuid saja," imbuh Frederik.

Dengan kata lain, saham SMC bukan berarti mutlak menjadi alternatif ketika bursa saham sedang kurang kondusif. Sebaliknya, menurut Frederik, saat ini merupakan momen membeli big caps saat diskon dan valuasinya murah.

Baca: Menantu Elvy Tidak Patuhi Anjuran Dokter

"Justru hindari small dan medium caps karena masih lebih berisiko, atau bahkan bisa ke fix income sambil menanti kondisi ekonomi global lebih stabil," jelasnya.

Namun, di sisi lain, bukan berarti seluruh saham SMC dihindari. Masih banyak saham SMC yang juga menarik, seperti ADRO.

Arandi Ariantara, analis UOB Kay Hian memberikan perhatian lebih untuk saham batubara tersebut. "Karena selama tiga tahun terakhir, harga batubara global selalu meningkat memasuki musim dingin di semester kedua," tulisnya dalam riset 27 September.

Fundamental ADRO juga semakin solid dengan keberadaan tambang Kestrel. "Manajemen percaya Kestrel akan berkontribusi US$ 80 juta hingga US$ 90 juta terhadap pendapatan tahun ini," pungkas Arandi. (Dityasa Hanin Forddanta)

 

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved