Minggu, 3 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

News

Disirami Bensin, Kepala Desa Nyaris Dibakar Hidup-hidup oleh Pengungsi, Ini Penyebabnya

Dari informasi yang dihimpun Kompas.com, kejadian itu terjadi di posko pengungsian di perbukitan desa tersebut pada Jumat (4/10/2019) kemarin.

Tayang:
Editor: Frandi Piring
KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTY
Pengungsi gempa di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabuopaten Maluku Tengah masih bertahan di lokasi ketinggian di desa tersebut, Sabtu (5/10/2019) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Penyaluran bantuan untuk korban gempa di Maluku mulai dikeluhkan para pengungsi di sejumlah lokasi pengungsian. 

Di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, misalnya, para pengungsi nyaris membakar hidup-hidup kepala desa setempat lantaran terpal yang diminta warga tidak diberikan.

Dari informasi yang dihimpun Kompas.com, kejadian itu terjadi di posko pengungsian di perbukitan desa tersebut pada Jumat (4/10/2019) kemarin.

“Ada warga yang meminta terpal dari bapak raja (kepala desa) tapi tidak diberikan. Bapak raja minta agar yang mau terpal datang ambil sendiri, sehingga warga marah dan terjadi keributan,” kata Rudi, salah seorang pengungsi saat dihubungi, Sabtu (5/10/2019).

Menurut dia, karena kesal, salah satu pengungsi langsung menyiram kepala desa dengan bensin dan hendak membakarnya. Beruntung sang kepala desa langsung kabur.

"Masalahnya hanya terpal, tapi sudah selesai,” ujarnya.

Pengungsi gempa di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabuopaten Maluku Tengah masih bertahan di lokasi ketinggian di desa tersebut, Sabtu (5/10/2019)
Pengungsi gempa di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabuopaten Maluku Tengah masih bertahan di lokasi ketinggian di desa tersebut, Sabtu (5/10/2019) (KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTY)

Baca: Mengenang 1 Tahun Gempa Palu, Detik-detik Tanah Jadi Lumpur dan Telan Setiap Bangunan, Ada Videonya!

Sementara itu, Kapolsek Salahutu, AKP Izaac Risambessy yang dikonfirmasi Kompas.com membenarkan keributan di posko pengungsian tersebut.

Namun, ia membantah jika ada pengungsi yang hendak membakar kepala desa.

“Hanya keributan biasa, itu gara-gara tenda tapi sudah diselesaikan secara kekeluargaan,” ujarnya.

Sementara Kepala Desa setempat, Zeth Bakarbessy mengaku, kejadian itu bermula saat seorang pengungsi datang meminta terpal darinya dengan alasan ada yang mau melahirkan.

Baca: TERBARU Gempa Ambon, 30 Orang Meninggal Dunia dan Lebih Dari 100 Orang Menderita Luka-Luka

Namun, warga yang datang itu meminta enam buah terpal sekaligus.

“Saya bilang ke dia agar suami yang istrinya mau melahirkan itu datang ambil sendiri karena sebelumnya saya sudah kasih ke dia, lalu mereka marah,” katanya.

Terkait masalah itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku, Farida Salempessy mengatakan, penyaluran bantuan telah menjadi kewenangan BPBD Kabupaten Kota.

“Untuk bantuan itu sudah menjadi tanggung jawab di kabupaten kota,” ujarnya di posko penangulangan bencana.

Baca: Tewaskan 8 Orang: Begini Kondisi Ambon Pascagempa

Sementara itu, menanggapi penyaluran bantuan korban pengungsi yang dinilai masih belum merata itu, Anggota DPRD Kabupaten Maluku Tengah, Subhan Nur Fata meminta BPBD dan pihak berwenang agar dapat menyalurkan bantuan bencana kepada seluruh pengungsi yang berhak menerima.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved