Breaking News:

Tiga Orang Kemenpora Ditanya Aliran Suap ke Imam Nahrawi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa tiga saksi dari pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Gedung KPK

TRIBUNNEWS.COM/IQBAL FIRDAUS
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi membacakan surat pengunduran dirinya dari kursi Menpora pada konferensi pers di lobi gedung Kemenpora, Jakarta Pusat, Kamis (19/9/2019). Imam Nahrawi mengundurkan diri karena ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus suap dana hibah KONI. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa tiga saksi dari pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Gedung KPK, Jakarta, Senin (30/9).

Penyidik KPK memberikan sejumlah pertanyaan perihal dugaan aliran suap Rp26,5 miliar terkait dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) ke Imam Nahrawi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) periode Oktober 2014-19 September 2019.

Baca: Pensiun: Ini Hak-hak Anggota DPR RI

Ketiga orang yang diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Imam Nahrawi adalah mantan Kepala Biro Keuangan Kemenpora Bambang Tri Djoko, staf Biro Keuangan Kemenpora Sibli Nurjama dan mantan PNS Kemenpora Supriono.

"Penyidik mendalami keterangan saksi terkait pemberian suap kepada pihak tersangka," ujar jur bicara KPK, Febri Diansyah.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan tersangka dan menahan Imam Nahrawi selaku Menpora karena dugaan penerimaan suap Rp26,5 miliar terkait pengurusan proposal dana hibah dari KONI ke Kemenpora tahun 2018.

Imam diduga menerima suap Rp 14.700.000.000 melalui asisten prribadinya, Miftahul Ulum, selama rentang waktu 2014-2018. Dalam rentang waktu yang sama, Imam diduga juga meminta uang senilai Rp 11.800.000.000. Adapun Ulum telah lebih dulu ditetapkan dan ditahan oleh KPK. Seluruh uang tersebut diduga untuk kepentingan pribadi Imam Nahrawi dan pihak lain yang terkait.

Miftahul Ulum lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh pihak KPK atas kasus yang sama. Kedua ditahan di rumah tahanan berbeda.

Baca: Puluhan Napi Wanita Kabur: Diduga Sengaja Dibakar

Penetapan tersangka yang dilakukan KPK kepada imam Nahrawi merupakan pengembangan dari kasus suap dana hibah dari Kemenpora ke KONI yang menjerat lima orang dari Kemenpora dan KONI. Kelimanya terjaring dalam operasi tangkap (OTT) praktik suap yang dilakukan oleh KPK pada 18 Desember 2018.

Kelimanya adalah Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy, Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy, dua staf Kemenpora yakni Adhi Purnomo dan Eko Triyanto, serta Mantan Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana.

Adhi Purnomo dan staf Kemenpora Eko Triyanta divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan. Keduanya terbukti menerima uang sebesar Rp 215 juta dari Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy.

Menurut hakim, uang tersebut diberikan agar Adhi dan Eko mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah Kemenpora RI yang akan diberikan kepada KONI pada Tahun Anggaran 2018.

Mulyana juga telah divonis 4 tahun dan 6 bulan penjara, serta denda Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan oleh majelis hakim pada Pengadilan Tipikor Jakarta.

Kasus berawal dari upaya KONI mengajukan proposal bantuan dana hibah kepada Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event 18th Asian Games 2018 dan 3rd Asian Para Games 2018. Kemudian, proposal dukungan KONI dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi Tahun 2018.

Baca: Ketua MK Sebut Mahasiswa Mendahului Tuhan

Dalam di persidangan terdakwa Jhonny E Awuy pada 29 April 2019, saksi Ending Fuad Hamidy mengaku pernah mendengar keluhan Alfitra Salam saat menjabat sebagai sesmenpora. Saat itu, Alfitra mengaku tidak kuat lagi menjadi sesmenpora karena kerap diminta menyediakan uang oleh Imam Nahrawi. Dan Alfitra selalu diancam akan diganti dari jabatannya apabila tidak dapat memenuhi permintaan uang.

Ending menuturkan, saat itu Alfitra diminta menyiapkan uang Rp5 miliar. Dan Alfitra selalu diancam akan diganti dari jabatannya apabila tidak dapat memenuhi permintaan uang. Keluh kesah yang disampaikan Alfitra sambil menangis ini juga disaksikan oleh istri Alfitra. "Curhat sambil menangis dengan (disaksikan) istrinya, beliau harus siapkan uang Rp5 miliar," ungkap Ending. (tribun network/ilh/coz)

Penulis: Tim Tribun Manado
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved