Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah Dunia

Bikin Mata Merasakan Sensasi Menyengat, Ini Sejarah Gas Air Mata

Aksi demo yang berujung rusuh biasanya akan ditanggapi dengan tembakan gas air mata oleh pihak keamanan.

Editor: Rizali Posumah

TRIBUNMANADO.CO.ID - Aksi demo yang berujung rusuh biasanya akan ditanggapi dengan tembakan gas air mata oleh pihak keamanan. 

Ketika gas ini ditembakkan ke arah para pendemo, mereka akan merasakan sensasi menyengat di bagian mata hingga keluarnya air mata. 

Selain itu gas air mata juga berefek pada gangguan saluran pernapasan bagian atas hingga mengakibatkan batuk, tersedak dan lemas.

Lalu bagaimana sejarah dari gas air mata ini?

Agustus 1914, para tentara Perancis menembakkan granat berisi gas kepada prajurit Jerman di kawasan perbatasan. Perang yang disebut sebagai “Battle of the Frontiers” itu menjadi momen di mana gas air mata digunakan di berbagai belahan dunia.

Granat berisi gas tersebut merupakan buah karya ahli kimia Perancis. Tujuan dibuatnya granat tersebut adalah untuk mengendalikan huru-hara, dan itu tidak berubah sampai saat ini.

Situs berita The Atlantic mengatakan, granat berisi gas tersebut digunakan untuk membuat mundur barikade.

Berita Populer

Baca: Denny Siregar Dicari Anak STM : Sudah Marah, Satu Lawan Satu Ok, Keroyokan Ok

Baca: PAPUA KEMBALI RUSUH - Aksi Pembakaran di Pegunungan Bintang hingga KKB Tembak Mati 2 Tukang Ojek

Baca: Profil Andi Hamzah, Profesor yang Sebut Manado Daerah Tolerir Kumpul Kebo, Ternyata Mantan Kajari

Gas tersebut menimbulkan beragam reaksi seperti sakit mata, masalah pernafasan, iritasi kulit, pendarahan, bahkan kebutaan.

Granat berisi gas tersebut kemudian dikenal sebagai tear gas (gas air mata), atau lachrymator.

Situs Encyclopedia Britannica mengatakan bahan utama dalam gas air mata adalah halogen sintetis, cairan yang bisa ditembakkan lewat beberapa senjata seperti granat dan spray.

Semenjak ditemukan, keberadaan gas air mata menjadi “musuh” bagi para tentara. Hampir bisa dipastikan para tentara akan meninggalkan pimpinan dan jenderalnya saat ditembakkan gas air mata.

Adalah Amos Fries, pemimpin dari Chemical Welfare Service US Army mengembangkan teknologi agar gas air mata bisa digunakan tak hanya di medan perang.

Dia pula yang membayar pengacara dan pebisnis untuk membuat pasar komersial gas air mata dan mempublikasikannya lewat media massa.

“Lebih mudah dihadapkan dengan peluru dibanding dengan gas yang tak kasat mata,” begitu katanya saat itu.

Baca: Jokowi Apresiasi Demonstrasi Mahasiswa di Depan Gedung DPR/MPR, Hari Ini Presiden Temui Mahasiswa

Baca: Lowongan Kerja - 5 Perusahaan BUMN Cari Karyawan, Gaji di Atas UMK, Ini Cara Daftarnya!

Baca: Pernikahan Jessica Iskandar dan Richard Kyle Dikabarkan Senilai Rp 2 Miliar

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved