Senin, 20 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Olly Buka Peluang GSVL: Nasdem Punya Banyak ‘Joker’

GS Vicky Lumentut, Elly Lasut dan Benny Mamoto menjadi kekuatan Partai Nasdem menghadapi Pemilihan Gubernur Sulawesi Utara 2020.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUN MANADO/SITI NURJANAH
Vicky Lumentut 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – GS Vicky Lumentut, Elly Lasut dan Benny Mamoto menjadi kekuatan Partai Nasdem menghadapi Pemilihan Gubernur Sulawesi Utara 2020. Wali Kota Manado, Bupati Talaud terpilih dan mantan Direktur BNN ini dianggap bisa mengimbangi kekuatan Steven Kandouw dari PDIP dan Christiany Paruntu dari Partai Golkar.

Kontestasi Pilgub Sulut menjadi berimbang pasca pernyataan mengejutkan dari Gubernur Sulut petahana Olly Dondokambey. Bendahara Umum PDIP ini mengatakan mundur dari Pilgub 2020. Ia diproyeksikan menjadi menteri di Kabinet Jilid II Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Baca: Man United vs Astana: Saatnya yang Muda

Kandouw diprediksikan menggantikan Olly untuk posisi calon gubernur. Untuk posisi ‘papan dua’, ada nama Herson Mayulu. Anggota DPR RI terpilih dari PDIP ini menjadi wakil dari Bolaang Mongondow Raya (BMR). Berkembangkan juga isu Robby Dondokambey, saudara kandung Olly, bakal dimajukan mendampingi Steven. Robby kini menjabat Wakil Bupati Minahasa.

Calon internal lainnya yang muncul nama Yanny Tuuk. Ketua DPC PDIP Bolmong ini dianggap representasi BMR. Sedangkan calon wagub dari luar PDIP mencuat nama Tatong Bara. Wali Kota Kotamobagu ini didagang mendampingi Kandouw. "Siapapun yang ditunjuk adalah putusan partai, wajib diamankan semua kader," kata Sekretaris DPD PDIP Sulut Frangky Wongkar.

Di kubu Nasdem, mundurnya Olly dari arena Pilkada Serentak 2020 membawa angin segar. Para kader bersemangat. Mereka hakul yakin jagoannya Vicky atau Elly bisa setanding dengan jagoan PDIP. Sejauh ini sudah ada beberapa ‘joker’– figur andalan– Nasdem yang siap maju di pesta demokrasi di Sulut.

Mereka adalah Vicky Lumentut, Elly Lasut dan Tatong Bara. Vicky yang paling agresif mensosialisasikan diri. Kini, ia rajin hadir di berbagai acara.
Ia juga giat hadir dalam kegiatan kemasyarakatan, semisal kebaktian kebangunan rohani (KKR).

Baca: Romahurmuziy Diare, Majelis Hakim Tunda Persidangan

Sumber tribunmanado.co.id membeberkan, Vicky kerap menggelar doa khusus. Ia didoakan oleh para pendoa. Peluang Vicky disebut besar jika Olly mundur. Apalagi jika dipasangkan dengan Tatong Bara. Tatong yang merupakan tokoh BMR, pas disandingkan dengan Vicky yang berasal dari etnis Minahasa.

Ketua Komando Pemenangan Wilayah Sulut Partai Nasdem Felly Runtuwene membeber partainya bakal menggelar pendaftaran terbuka. Para calon yang mendaftar akan disurvei. "Mereka akan dilempar (uji publik) ke masyarakat, kemudian akan muncul tiga (nama) besar, lantas nama ketiganya diserahkan ke DPP (Nasdem)," kata Anggota DPR RI terpilih ini.

Tahapan Pilkada
Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) telah keluar. Berdasarkan PKPU itu, pilkada akan digelar pada 23 September 2020 secara serentak di 270 daerah.

Pengumuman hasil rekapitulasi tingkat kabupaten/kota untuk pemilihan bupati (pilbup) dan pemilihan wali kota (pilwalkot) dijadwalkan tanggal 29 September-1 Oktober 2020, dan pengumuman hasil rekapitulasi tingkat provinsi untuk pilgub tanggal 2-4 Oktober 2020.

Dalam PKPU disebutkan bahwa naskah perjanjian hibah daerah yang akan digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pilkada akan disusun dan ditandatangani pada 1 Oktober 2019.

Penyelenggara pemilu di tingkat bawah, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dibentuk dalam rentang waktu 1-31 Januari 2020, Panitia Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) pada 16-29 April, Panitia Pemungutan Suara (PPS) pada 21 Februari-21 Maret, dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada 21 Juni- 21 Agustus 2020.

PPK akan bekerja selama sepuluh bulan, yaitu 1 Februari sampai 23 November 2020. PPS bekerja selama delapan bulan, 23 Maret-23 November 2020. PPDP bekerja untuk satu bulan, 17 April-16 Mei 2020. Dan KPPS satu bulan lebih tujuh hari, 23 Agustus-30 September 2020.

Bagi pemantau pemilihan, pelaksana survei dan pelaksana hitung cepat, pendaftaran dibuka sejak 1 November 2019. Pendaftaran untuk pelaksana survei dan hitung cepat ditutup pada 23 Agustus 2020, sementara untuk pemantau pemilihan ditutup pada 16 September 2020.

Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) direncanakan diterima KPU pada tanggal 20-23 Februari 2020. Data ini kemudian disinkorinisasi dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) terakhir dan akan diumumkan pada 27 Maret.

Baca: Dian Dicegat Polisi saat Gendong Jasad Cucu

Data hasil sinkronisasi kemudian dicocokkan dan diteliti selama 17 April-16 Mei 2020. Daftar Pemilih Sementara (DPS) diumumkan kepada publik pada 19-28 Juni, dan publik dapat memberikan tanggapan. DPS yang diperbaiki berganti status menjadi DPT. DPT diumumkan oleh PPS pada 1 Agustus-22 September.

Pendaftaran menjadi paslon sendiri dibuka selama tiga hari, yakni 16-18 Juni 2020. Dokumen syarat bapaslon akan diteliti, lalu diumumkan di laman KPUD guna memperoleh tanggapan dan masukan dari masyarakat. KPU memberikan masyarakat untuk mengirimkan tanggapan selama lima hari, 16-20 Juni 2020.

Setelahnya, bapaslon akan menjalani pemeriksaan kesehatan selama periode 16-23 Juni 2020. Pada tahap pendaftaran, bapaslon juga diberikan kesempatan untuk memperbaiki syarat calon.

Penetapan paslon diumumkan pada 8 Juli 2020. Pengundian dan pengumuman nomor urut paslon dilakukan besok harinya, 9 Juli. Bapaslon yang kecewa dengan hasil penetapan KPUD dapat mengajukan sengketa ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) dan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) paling lama lima hari kerja sejak diterbitkannya putusan PT TUN.

Masa kampanye berlangsung selama dua bulan lebih, dimulai pada 11 Juli 2020 dan berakhir pada 19 September. Untuk kampanye di media masa, cetak dan elektronik, hanya dapat dilakukan selama tanggal 6-19 September. Setelahnya, 20-22 September, berlaku masa tenang dan pembersihan alat peraga kampanye (APK).

Setiap peserta Pilkada wajib menyerahkan Laporan Awal Dana Kampanye (LADK) kepada KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota pada 10 Juli 2020, Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye (LPSDK) pada 15 Agustus, dan Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye (LPPDK) pada 20 September. LPPDK akan diaudit selama lima belas hari di tanggal 21 September-5 Oktober. Hasil audit diumumkan pada 7-9 Oktober.

Max Rembang.
Max Rembang. (istimewa)

Duet Minahasa-BMR
Tak Pernah Menang

Max Rembang, Pengamat Politik dari Unsrat mengatakan, Nasdem akan jadi kompetitor terdepan PDIP untuk Pilgub Sulut 2020. Bermodal 5 kepala daerah yang disebut ‘joker’, Nasdem akan mencoba menantang kekuatan digdaya PDIP di Sulut.

Sebelum ke arena, Nasdem harus menyelesaikan persoalan internal lebih dulu. Siapa figur yang akan diusung. Ada beberapa nama yang digadang maju, yakni GSV Lumentut Wali Kota Manado dan Elly Lasut Bupati Talaud Terpilih dan Benny Mamoto.

Kalau ikut struktur ada Ketua DPW Nasdem Sulut Max Lomban. GSVL paling sering diperbincangkan, ada kader juga yang getol sosialiasi dengan baliho di mana-mana.

Persaingan ini akan melahirkan intrik ke dalam (internal partai), berpotensi saling jegal dan membuat tak solid. Jika salah satu yang diusung, belum tentu yang laim mendukung sepenuh hati.

Bedanya, masalah ini tidak berlaku di PDIP. Apa yang diputuskan partai akan didukung, demokrasi terpimpin ala Megawati terbukti efektif mengelola potensi masalah. Megawati perintahkan maka tak ada yang melawan, memang suasana PDIP berbeda.

Kedua, Nasdem belum memiliki akar rumput sekuat PDIP. Masalah ini jadi pembeda, pertarungan PDIP dan Nasdem di pemilu baru-baru ini. Meski begitu, Nasdem tetap lawan berstatus kuda hitam. Pencapaian mereka di Pemilu 2019 cukup bisa menyaingi PDIP.

Ketiga, strategi dukungan etnis yakni duet figur Minahasa-Bolmong cukup mengemuka jadi alternatif strategi Bolmong. Berpeluang terwujud, tapi pada sejarah Pilgub Sulut belum pernah berhasil.

Tiga pilgub sebelumnya gagal, semisal pasangan Ferry Tinggogoy-Hamdi Paputungan di Pilgub 2005. Kemudian, Stevanus Vreeke Runtu-Marlina Moha Siahaan di Pilgub 2010. Lalu, Benny Mamoto-David Bobihoe di Pilgub 2015.

Nasdem tentu bisa mencoba dengan berbagai pertimbangan, penting untuk memanajemen dukungan. Menghadapi pilgub ini, Nasdem pertama harus konsolidasi ke dalam, siapa terhebat itu diusung. Kemudian, perkuat dukungan akar rumput. Nasdem belum memiliki pendukung semilitan PDIP. Ini pekerjaan rumah Nasdem. (Tribun/rmol/art/ryo)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved