G30S PKI

Detik-detik DI Panjaitan Ditembak saat G30S PKI, Pakai Seragam Militer: Ayah Dilempar Lewat Gerbang

7 perwira tinggi militer Indonesia dan beberapa orang lain dibunuh di Jakarta, di antaranya DI Panjaitan.

Detik-detik DI Panjaitan Ditembak saat G30S PKI, Pakai Seragam Militer: Ayah Dilempar Lewat Gerbang
Kolase TribunJakarta.com/YouTube iNews/Wikipedia
Chaterine Panjaitan - DI Panjaitan 

Jenazah DI Panjaitan itu dibuang ke dalam Lubang Buaya.

Lubang Buaya merupakan tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para Korban G30S/PKI.

Chaterine juga membenarkan jalan cerita film G30S/PKImerupakan benar adanya karena ia ikut terlibat dalam memberikan kesaksian peristiwa itu.

"Persis almarhum Arifin C Noer (red: sutradara) gambarkan," imbuhnya.

Chaterine juga menyatakan, Arifin C Noer melakukan wawancara satu per satu dengan saksi peristiwa G30S/PKI.

Simak Videonya:

Siapa sosok DI Panjaitan?

Melansir dari wikipedia.org Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan atau DI Panjaitan adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia.

Ia lahir di Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada usia 40 tahun.

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta

Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas.

Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang.

Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun.

Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI.

Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948.

Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan.

Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.

Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.

Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia.

Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi.

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk PKI.

Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces).

Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan untuk mempersenjatai angkatan kelima.

Kematian

Pada jam-jam awal 1 Oktober 1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September meninggalkan Lubang Buaya menuju pinggiran Jakarta.

Mereka memaksa masuk pagar rumah Panjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu menembak dan menewaskan salah seorang pelayan yang sedang tidur di lantai dasar rumah dua lantai dan menyerukan Panjaitan untuk turun ke bawah.

Dua orang pemuda yaitu Albert Naiborhu dan Viktor Naiborhu terluka berat saat mengadakan perlawanan ketika DI Panjaitan diculik, tidak lama kemudian Albert meninggal.

Setelah penyerang mengancam keluarganya, Panjaitan turun dengan seragam yang lengkap berdoa,sambil menyerahkan diri kepada Yang Maha Esa untuk memenuhi panggilan tugas yang dimanupalasi oleh gerombolan PKI dan ditembak mati.

Mayatnya dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali ke markas gerakan itu di Lubang Buaya. Kemudian, tubuh dan orang-orang dari rekan-rekannya dibunuh tersembunyi di sebuah sumur tua.

Mayat ditemukan pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya. Panjaitan mendapat promosi anumerta sebagai Mayor Jenderal dan diberi gelar Pahlawan Revolusi.

Biodata

Nama lengkap: Donald Isaac Panjaitan

Panggilan: DI Panjaitan

Tempat, tanggal lahir: Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925

Meninggal dunia: Lubang Buaya, 1 Oktober 1965

Pasangan: Marieke Pandjaitan br Tambunan

Anak

1. Catherine Pandjaitan
2. Masa Arestina
3. Ir (Ing) Salomo Pandjaitan
4. Letnan Jenderal (Purn) Hotmangaraja Panjaitan
5. Tuthy Kamarati Pandjaitan
6. Riri Budiasri Pandjaitan

Pekerjaan: TNI-AD

Penghargaan sipil: Pahlawan Revolusi

KLIK TAUTAN AWAL TRIBUNTIMUR

KLIK TAUTAN AWAL TRIBUNJAKARTA

#Detik-detik DI Panjaitan Gugur saat G30S PKI, Pakai Seragam Militer: Ayah Dilempar Lewat Gerbang

Editor: Aldi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved