Nawawi Sebut Kinerja KPK Sempoyongan: Begini Kata Komisioner KPK

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) La Ode M Syarif merasa kesal kinerja lembaga yang dipimpinnya diremehkan.

Nawawi Sebut Kinerja KPK Sempoyongan: Begini Kata Komisioner KPK
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menjelaskan kepada wartawan saat konferensi pers di kantor KPK, Jakarta, Rabu (27/9/2017). KPK menetapkan Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi KTP elektronik. Anang Sugiana Sudihardjo menjadi tersangka ke enam dalam kasus mega korupsi tersebut. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) La Ode M Syarif merasa kesal kinerja lembaga yang dipimpinnya diremehkan. "Saya agak kesal tadi ketika menonton fit and proper test. Salah satu calon kandidat mengatakan pencegahan KPK itu cuma pergi pasang-pasang poster di sini zona integritas. Pingin sekali saya ajari," kata Laode, Rabu(11/9/2019).

Calon Pimpinan (Capim) KPK, Nawawi Pomolango saat uji kepatutan dan kelayakan di Komisi III DPR menyebutkan kinerja dari KPK tidak istimewa dalam menangani kasus-kasus tindak pidana korupsi. Nawawi mengaku geregetan terkait kinerja KPK saat ini. Sementara KPK sebagai lembaga independen memiliki kewenangan yang sangat besar. Kemudian ia menyinggung soal indeks persepsi korupsi yang dianggap tidak memuaskan.

Baca: BJ Habibie Meninggal, Prabowo Ungkap Pernah Disebut Profesor oleh Presiden ke 3 RI

Nawawi pun mengibaratkan KPK saat ini seperti orang yang pulang dari kelab malam. "Ada rasa greget. Lembaga luar biasa tapi hasilnya biasa-biasa. Kinerja KPK itu seperti orang tengah malam pulang dari dugem, jalannya sempoyongan. Kiri kadang ke kanan, tidak pernah lurus," kata Nawawi.

Terkait itu, Laode menegaskan, KPK telah melakukan banyak upaya pencegahan. Ia bahkan mengklaim kekayaan negara yang diselamatkan lewat upaya pencegahan pun lebih besar dari upaya penindakan.

Ia mencontohkan, KPK telah mendata semua izin pertambangan di seluruh Indonesia yang sebelumnya bahkan tidak terdata oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. "Kita ketahui lebih 6.000 (tambang) itu ilegal. Mereka bayar pajak? Tidak. Berapa uang yang kita selamatkan dari itu? Ratusan triliun," ujar Laode.

Laode melanjutkan, keberhasilan KPK lainnya adalah mengembalikan aset-aset PT Kereta Api Indonesia yang dahulu dikuasai oleh pihak ketiga. "Termasuk yang di Medan yang sudah jadi mal. Kok itu enggak dianggap sebagai capaian pencegahan KPK?" kata Laode.

Nawawi Pomolango juga menyebut Wadah Pimpinan (WP) KPK sebagai masalah internal di komisi antirasuah tersebut. “Sudah jadi rahasia umum bahwa apa yang disebut Wadah Pegawai itu sebagai persoalan. Kenapa? Karena WP sudah di luar kebijakan aparatur sipil negara (ASN),” ungkap Nawawi.

Menurutnya konsep kepegawaian WP KPK tak sesuai dengan konsep ASN. Yang dimaksud Nawawi adalah WP KPK kerap bertolak belakang dengan keinginan pemerintah dan legislatif seperti aksi penolakan terhadap RUU KPK yang dilakukan beberapa waktu lalu.
“Konsep WP KPK sekarang membuat mereka merasa seperti di awan-awan,” imbuhnya.

Baca: Lantamal VIII Peringati Tahun Baru Islam, Wadan: Perbaharui Kembali Kesadaran Personil

Nawawi juga mengkritik proses promosi jabatan di KPK yang menurutnya tak berdasarkan pada rekam jejak sehingga bisa merusak integritas pejabat di KPK. “Seperti perekrutan penyidik dan penuntut, bagaimana bisa orang yang tak punya latar belakang posisi tersebut bisa dipromosikan, bukan kah itu bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Apalagi sekolah penyidik itu lama,” tegasnya.

Di akhir jawabannya Nawawi juga mengkritik pengelolaan barang sitaan KPK yang tidak dilakukan dengan baik. “Hal itu terlihat dari opini Wajar Dengan Pengecualian yang diberikan BPK kepada KPK,” pungkas Nawawi.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved