Apa Kata Sains tentang Cinta Sejati seperti Habibie dan Ainun
Namun dari kaca mata ilmu pengetahuan, apa yang dimaksud dengan rasa cinta, terutama cinta sejati?
TRIBUNMANADO.CO.ID - "Jangan tinggalkan saya, Ainun," ucap BJ Habibie saat berada di samping Ainun yang tergambar dalam Film Habibie dan Ainun.
Kisah BJ Habibie dan Ainun begitu dalam. Hanya maut yang memisahakn mereka. Kisah cinta mereka abadi.
Cinta, sebegitu kuatnya, hingga bisa mengantar kita ke dalam kehidupan baru atau bahkan merenggut kebahagiaan.
Tak terhingga jumlah lagu, buku, puisi, dan karir yang mencoba untuk merepresentasi rasa cinta.
Namun dari kaca mata ilmu pengetahuan, apa yang dimaksud dengan rasa cinta, terutama cinta sejati?
Berita Populer
Baca: Kivlan Zen Mantan Jendral TNI Menangis di Persidangan, Ternyata Ini Penyebabnya
Baca: Wanita di Uganda Ini Miliki 44 Anak di Usia 36 Tahun dari Suami yang Sama
Ahli saraf Gabija Toleikyte dan antropolog biologi Helen Fisher menjelaskan tentang cinta sejati.
Dikutip dari Wired, kedua ilmuwan ini setuju bahwa cinta sejati tidak bisa dikontrol.
Istilahnya, tak ada tombol on atau off untuk 'menyalakan' rasa cinta.
“Benak kita menyimpan informasi 10 kali lebih banyak dibanding otak secara rasional.
"Jadi ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, kita merasakan itu adalah suatu hal yang luar biasa.
"Padahal di saat bersamaan, otak kita bekerja sangat kuat untuk menghasilkan perasaan tersebut,” tutur Gabija.
Gabija mendeskripsikan hal ini sebagai cinta romantis, sebagai sebuah kebutuhan dasar yang muncul jutaan tahun lalu agar manusia fokus kepada satu orang pasangan dan bereproduksi.
Sebelumnya, Helen melakukan penelitian terhadap 17 pasangan baru (10 wanita dan 7 pria) yang menjalin hubungan sekitar tujuh bulan lamanya.
Semua responden melakukan scan otak, terutama pada bagian ventral tegmental.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/rangkaian-prosesi-pemakaman-bj-habibie.jpg)