Breaking News
Kamis, 16 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Musim Kemarau Tahun Diprediksi Lebih Panjang, Ini Penjelasan BMKG

Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih panjang. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Editor:
TRIBUN MANADO/ARTHUR ROMPIS
Ilustrasi kemarau 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih panjang.

Adi Ripaldi, Kasubid Analisis Informasi Iklim BMKG, mengatakan ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Adi mengatakan, meskipun El-nino sudah melemah dan sudah pada kondisi netral, namun beberapa faktor lainnya juga mempengaruhi iklim di wilayah Indonesia.

Berikut adalah El Nino dan empat faktor pengendali iklim di Indonesia lainnya yang menyebabkan kekeringan panjang pada musim kemarau tahun ini.

1. ENSO (El-Nino dan La Nina)

ENSO (El Nino-Southern Oscillation) adalah variasi lebih panas atau dingin dari suhu permukaan laut di wilayah equator tengah dan timur Samudera Pasifik yang reguler atau berkala.

BERITA POPULER

Baca: Seorang Mahasiswa Ditemukan Tak Bernyawa di Dalam Kamar Kos, Diduga Kematian Karena Ini

Baca: 2 Anak Pejabat Pesta Sabu di Kamar Kos Gadis 19 Tahun, Digerebek saat Asik Lakukan Hal Terlarang Ini

Baca: Intip Suasana Malam Pertama Roger Danuarta dan Cut Meyriska, Ternyata Ada Sosok Ini Dalam Kamar

Follow Instagram Tribun Manado

ENSO ini berpengaruh terhadap variasi iklim di sebagian besar wilayah tropis dan subtropis Bumi. Periode panasnya disebut sebagai El Nino, sementara periode dinginnya disebut La Nina.

BMKG melaporkan bahwa pada Agustus 2019, anomali suhu muka laut di wilayah Samudera Pasifik bagian tengah berada pada kisaran -0,5 hingga 0,5 derajat celcius.

Ini menandai kondisi netral dan berakhirnya episode El Nino lemah tahun 2018/2019.

Seharusnya, jika El- Nino melemah atau berakhir, maka musim hujan akan datang sesuai normalnya. Namun, ada 3 faktor lainnya yang menjadikan Indonesia tetap dalam kekeringan dan musim hujan terlambat.

2. IOD (Indian Ocean Dipole)

Kondisi IOD ikut mengganggu dalam variasi iklim di Indonesia. Jika dalam pemantauan hasil IOD menunjukkan positif (+), maka wilayah Indonesia barat akan kering.

Sebaliknya jika IOD menunjukkan kondisi negatif (-), maka wilayah Indonesia barat akan basah.

"IOD sekarang kondisinya positif. Ini artinya akan memperparah kering wilayah barat Indonesia. Namun, (IOD) diprediksi menuju netral menjelang akhir tahun 2019" ujar Adi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved