Selasa, 14 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cerita Pilot Wanita Pertama dari Papua: Papa dan Mama di Surga Pasti Senang

Rasa cinta Vanda Astri Korisano kepada dunia penerbangan terpupuk sejak kecil. Aktivitas di bandara adalah hal yang dia sukai.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
ISTIMEWA
Vanda Astri Korisano dan Martha Itaar (kanan), dua pilot perempuan angkatan pertama rekrutmen pilot asal Papua yang bergabung dengan Garuda Indonesia Group 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Rasa cinta Vanda Astri Korisano kepada dunia penerbangan terpupuk sejak kecil. Aktivitas di bandara adalah hal yang dia sukai. Dia tidak sanggup berkedip saat melihat pesawat terbang. Vanda punya mimpi menerbangakan pesawat Boeing 777 sejak melihat pesawat tersebut.

"Sejak kecil saya memang suka bandara. Setiap saya ke bandara, rasanya senang sekali," ungkap Vanda kepada Tribun Network, Jumat (2/8).
Impian Vanda untuk menerbangkan pesawat sedikit lagi terwujud.

Baca: Belanja Pengucapan Manado Rp 461 M: Siang Open House, Malam Konser Iwan Fals

Vanda adalah satu dari dua pilot rekrutan pertama Garuda Indonesia dari Papua. Satu pilot lagi adalah Martha Itaar. Hal yang lebih membanggakan lagi, mereka berdua adalah perempuan.

Keinginan Vanda untuk menerbangkan pesawat semakin besar begitu dia beranjak remaja. Vanda tak pernah berhenti belajar untuk mewujudkan cita-citanya, namun ada sebuah realita yang harus dia hadapi. Biaya pendidikan untuk menjadi penerbang tidak murah.

Vanda jadi merasa akan membebani dua orangtuanya. Vanda kemudian mengalihkan niatnya tersebut. Menjadi pramugari adalah pilihan yang lebih realistis menurutnya.

Ada satu peristiwa besar yang kemudian mengubah jalan hidup Vanda. Saat duduk di kelas III Sekolah Menengah Atas, Vanda mendapatkan kesempatan mendapat beasiswa. Dia direkomendasikan oleh kepala sekolahnya untuk mengikuti wawancara beasiswa. Pada 2015, bersama Martha Itaar, Vanda menjalani pendidikan diploma Aviation for Airline Preparation di Nelson Aviaton College, Selandia Baru.

Orangtuanya sangat mendukung impian Vanda untuk menjadi pilot. Namun demikian, Vanda tidak bisa mengajak orangtuanya terbang menggunakan pesawat yang dia kemudikan. Dua orangtuanya telah tiada.

Baca: Kapolri Ajak Para Kapolda Dukung Program Jokowi

"Papa dan Mama meninggal dunia waktu saya diterima di Garuda Indonesia. Waktu diterima Garuda Indonesia ada perasaan senang dan sedih karena tidak bisa memberitahu mereka, tapi kalau mereka ada, pasti senang," tutur Vanda.

Berikut ini petikan wawancara wartawan Tribun Network Dennis Destryawan bersama Vanda Astri Korisano di Jakarta, Jumat (2/8).

Bagaimana awal mula kamu berkeinginan untuk menjadi seorang pilot?

Sejak kecil saya memang suka sekali kepada bandara. Jadi, setiap saya ke bandara, rasanya senang sekali. Suasanya seperti berbeda. Waktu SMA, saya sangat suka pelajaran Bahasa Inggris.

Saya seperti melihat kombinasi Bahasa Inggris dan bandara berarti antara pilot dan pramugari. Kemudian saat melihat biaya untuk menjadi pilot mahal sekali, jadi merasa kasihan kepada orangtua. Ya sudah, jadi pramugari saja. Rupanya diberi kesempatan beasiswa tahun 2014.

Bagaimana proses kamu mendapat beasiswa?

Waktu itu saat kelas III SMA. Direkomendasikan oleh kepala sekolah. Waktu itu memang sering pidato Bahasa Inggris. Kepala sekolah kemudian memberitahu ada wawancara untuk sekolah di Selandia Baru, lalu saya ikut.

Nilainya juga dilihat. Beberapa bulan kemudian langsung diberitahu telah lulus. Saya ke Selandia Baru Agustus 2014. Tiga tahun di sana. Enam bulan pertama belajar Bahasa Inggris, lalu pindah ke sekolah penerbangan di 2015. Selesai 2017.

Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved