KPI di GMIM Eben Heazer Bumi Beringin

Pdt Dr Hein Arina: Saya Pendeta, Tapi Saya Juga Ketua Sinode GMIM

Ketua Sinode GMIM, Pdt Dr Hein Arina menjadi khadim dalam Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) yang diadakan oleh Jemaat GMIM Eben Heazer Bumi Beringin

Pdt Dr Hein Arina: Saya Pendeta, Tapi Saya Juga Ketua Sinode GMIM
istimewa
Ketua Sinode GMIM, Pdt Dr Hein Arina STh MTh saat menjadi khadim di KPI di GMIM Eben Heazer Bumi Beringin 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Ketua Sinode GMIM, Pdt Dr Hein Arina menjadi khadim dalam Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) yang diadakan oleh Jemaat GMIM Eben Heazer Bumi Beringin, Jumat (12/7/2019), sekira pukul 20.00 wita.

Ketua Sinode GMIM, Pdt Dr Hein Arina STh MTh swafoto dengan sebagian pelayan khusus GMIM Eben Heazer Bumber
Ketua Sinode GMIM, Pdt Dr Hein Arina STh MTh swafoto dengan sebagian pelayan khusus GMIM Eben Heazer Bumber (istimewa)

Pada kesempatan itu Pendeta Arina mengulas terkait 'Penginjilan yang Menghasilkan Buah' sesuai tema KPI saat itu.

Dia mengatakan, sebelum Riedel dan Schwarch melakukan penginjilan di tanah Minahasa memang telah ada penginjil-penginjil yang hadir dan menyebarkan injil di tanah Minahasa. Namun kedua penginjil yakni, Riedel dan Schwarch yang dalam penginjilannya menjadikan tanah Minahasa masyarakatnya menganut Kristen Protestan.

''Kedua penginjil ini yang menjadikan kita semua menganut Kristen Protestan dan berpendidikan. Sebab mereka pada waktu itu bukan hanya menyebarkan injil. Tapi, mereka juga mendidik orang Minahasa waktu itu supaya pinter, berpindidikan, '' ujar Arina.

Arina juga saat itu menyentil pembacaan saat ini di lingkungan Sinode GMIM yakni, Kejadian 4: 1- 16 yang intinya menceritakan mengenai persembahan Kain ditolak Allah kemudian dia membunuh adiknya Habel, karena benci, dengki dan iri hati.

''Dalam bacaan ini intinya mau mengatakan hati kita. Tuhan tahu hati kita, '' ujar Ketua Sinode meyakinkan.

Menariknya, saat itu dia sempat menyentil tentang kejadian di UKIT khususnya di Fakultas Teologia. Di mana, dia sendiri yang memimpin penyegelan dan penyitaan aset.

''Saya memang pendeta. Tapi, saya juga dipercayakan sebagai Ketua Sinode GMIM oleh kalian semua. Jadi saya harus tegas dalam bersikap. Saya harus mampu mengatur, menata akan aset-aset GMIM, '' ujarnya.

Menurutnya, banyak aset GMIM yang dihibahkan warga GMIM, tetapi karena tidak diurus sertifikatnya saat ini diminta kembali anak dari yang memberi atau keluarganya. ''Ya, karena kita tidak mengurus aset yang bersifat hibah ini. Jadi ada beberapa yang terpaksa saya tandatangan pengembalian aset. Itu karena lama tidak diurus, jadi anak-anak mereka minta kembali, '' ujarnya.

Arina mengakui sikapnya yang tegas saat pengambilalihan aset Teologia YPTK, supaya kembali menjadi aset dibawa naungan Yayasan AZR Wenas, ada yang tidak setuju. ''Tapi percayalah saya harus bersikap demi kelangsungan pelayanan dan GMIM sendiri, '' ujarnya meyakinkan.

Penulis: Aswin_Lumintang
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved