Selasa, 7 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Intervensi BI Angkat Rupiah: IHSG Terkoreksi 1,42% Melorot ke Level 5.895

Nilai tukar rupiah menguat tipis pada penutupan perdagangan Kamis (16/5) setelah Bank Indonesia (BI)

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
afp
IHSG 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar rupiah menguat tipis pada penutupan perdagangan Kamis (16/5) setelah Bank Indonesia (BI) yang menyatakan akan tetap menjaga nilai tukar.  Sepanjang perdagangan hari ini rupiah cenderung bergerak kalem, dan menguat dan melemah silih berganti namun tidak terlalu besar.

Rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp 14.445 atau menguat 0,07%, melansir data dari Refinitiv. Dibandingkan mata uang Asia lainnya, rupiah juga masih mempertahankan posisi nomer tiga terbaik, kalah dari rupee India dan ringgit Malaysia. Padahal pada perdagangan perbukaan hingga sore, rupiah tampak melemah.

Dalam pengumuman kebijakan moneter hari ini, BI tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Day Repo Rate di level 6%, sesuai dengan konsensus pasar yang dihimpun Reuters. Suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility juga ditahan masing-masing sebesar 5,25% dan 6,75%.

BI juga menargetkan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) di tahun ini sebesar 2,5% - 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang dikatakan sebagai level aman.

Ada pernyataan sedikit berbeda dari BI dibandingkan sebelumnya terkait current account deficit. Jika sebelumnya Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan mengupayakan CAD ke arah 2,5%, kini BI memberikan range CAD 2,5% - 3,0%. 

Data terakhir menunjukkan CAD sudah berada di level aman yakni 2,6%, yang berada di level aman. Namun defisit neraca perdagangan di bulan April yang terbesar sepanjang sejarah tentunya dapat membuat CAD membengkak lagi di kuartal-II 2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang menunjukkan Neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit di bulan April, setelah membukukan surplus. Tidak tanggung-tanggung, defisit tersebut sebesar 2,5 miliar dolar AS. Sebelum ini defisit terburuk tercatat sebesar 2,3 miliar dolar AS yang dibukukan pada Juli 2013.

Gubernur Perry juga menyatakan Bank Indonesia selalu menjaga nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi. Hal tersebut merujuk pada pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini, bahkan hingga mendekati level terlemah 2019 Rp 14.485 yang dibentuk pada 3 Januari lalu.

Sejak pagi hingga sore, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tertekan pada perdagangan di pasar spot. Pada Kamis (16/5/2019) pukul 15:00 WIB, 1 dolar AS dibanderol Rp 14.460, atau melemah 0,03% atau 5 poin dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin. Kurs rupiah di pasar NDF untuk periode 2 tahun kembali surut hingga menembus level 16.000.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, kembali terkoreksi sebesar 1,42% ke level 5.895. IHSG belum sekalipun menguat minggu ini dan selalu di tutup anjlok di atas 1%.

Meskipun Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunganya yakni BI 7 day RR di level 6%, IHSG belum juga memperlihatkan tanda-tanda berbalik arah, bahkan di tutup mendekati area terlemahnya.

Ilustrasi politik uang
Ilustrasi politik uang (kontan.co.id)

Sentimen negatif dari data neraca dagang RI yang defisit sebesar US$ 2,56 masih membekas di benak pelaku pasar. Defisit tersebut merupakan yang terdalam sepanjang sejarah dan lebih dalam dari defisit kuartal I 2018 sebesar 1,41 miliar dolar AS.

Investor asing pun masih cenderung melanjutkan aksi jual portofolio sahamnya di bursa. Asing tercatat membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp 828 miliar di pasar reguler. Sejak awal tahun, asing tercatat net sell 1,21 triliun.

Semua sektor di tutup memerah karena investor lokal juga dominan terlihat menjual. Secara persentase, sektor aneka industri melemah paling dalam dengan pelemahan sebesar 2,48%, diikuti sektor properti dengan pelemahan 2,11%.

Secara teknikal, IHSG masih dalam tekanan. Pola lilin hitam (black candle) yang terbentuk mengindikasikan kontinuitas tren penurunan pada perdagangan akhir pekan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved