Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

BEI Pantau Emiten yang Rugi Menahun

Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau sejumlah emiten dengan performa keuangan yang kurang memuaskan. BEI bahkan berniat memanggil sejumlah

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
antara
Penutupan perdagangan IHSG di lantai Bursa Efek Indonesia. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau sejumlah emiten dengan performa keuangan yang kurang memuaskan. BEI bahkan berniat memanggil sejumlah emiten yang telah mencatat kerugian menahun.

Setidaknya ada dua perusahaan yang sudah masuk daftar panggil BEI. Salah satunya adalah perusahaan pelat merah,
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Dari sektor swasta, ada PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA). "Sekalian dengan beberapa perusahaan lain yang layak kami pertanyakan performa perusahaannya," ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Jumat (12/4).

RMBA bahkan sudah mencatat posisi rugi sejak 2012. Kerugian tahun lalu menggenapkan kerugian RMBA selama tujuh tahun berturut-turut. Kerugiannya bahkan naik 27% (lihat tabel).

Vice President Research Artha Sekuritas Indonesia Frederik Rasali mengatakan, RMBA terbebani oleh besarnya biaya operasional. "Salah satunya dari biaya promosi," papar dia kepada KONTAN belum lama ini.

Tahun lalu, beban promosi dan iklan RMBA tercatat Rp 1,1 triliun. Angka ini naik 31% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 840,05 miliar.

RMBA belum menyajikan data volume produksinya. Namun, jika melihat kinerja emiten lain di industri yang sama, seperti HMSP dan GGRM, yang tetap moncer, lesunya performa RMBA juga ada kaitannya dengan skala ekonomi perusahaan ini.

Menurut hitungan Frederik, kalau produksi lebih besar, otomatis biaya per batang rokoknya lebih rendah. "Bukan hanya biaya produksi, tapi biaya secara keseluruhan," jelas dia.

Masih Menurut Frederik, RMBA butuh investasi yang lebih besar lagi atau investor anyar yang berani bakar duit untuk kembali bisa mencapai skala ekonomis. Mengutip situs resmi British American Tobacco, pangsa pasar pemegang saham 92,48% saham RMBA ini memang hanya sekitar 8% tahun lalu. Bandingkan dengan pangsa pasar Phillip Morris International (PMI) yang mencapai 33%.

Main aman

Dari riset KONTAN, cukup banyak emiten yang mencatatkan rugi bertahun-tahun. Di antaranya PT Propertindo Mulia Investama Tbk (MPRO). Pada 2016-2018, rugi bersih emiten ini berturut-turut naik 165%, 202% ,dan 109%.

Analis menyarankan investor menghindari saham yang kinerja keuangannya buruk, terutama bila mengalami rugi bertahun-tahun. "Kalau mau masuk, lebih disarankan big cap," ujar Frederik.

Setali tiga uang, analis Senior Anugerah Sekuritas Indonesia Bertoni Rio mengatakan, investor, terutama ritel, sebaiknya berhati-hati dengan saham yang emitennya secara statistik sering mencetak kerugian.

Terlebih, pergerakan harga saham dengan fundamental seperti ini cenderung dipengaruhi oleh spekulasi. Pergerakan harganya banyak dipengaruhi oleh sentimen pemberitaan, baik itu positif atau negatif.   (Aloysius Brama/Nur Qolbi/DH Forddanta)

 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved